• Satu Desa di Wakatobi Rentan Ketahanan Pangannya

image_title
Ket: Pjs.Bupati, Drs.Aslaman Sadik bersama Kadis Ketahanan Pangan Kabupaten Wakatobi, H.Sulaeman,S.Pd.,M.Pd membuka launcing buku ketahanan dan keretanan pangan Kabupaten Wakatobi tahun 2020, di Villa Nadila.,Senin (16/11/2020)
  • Share

    BUMISULTRA

    WAKATOBI - Satu diantara 100 Desa dan Kelurahan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) masih rentan terhadap ketahanan pangan. Hal itu diungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan setempat, H.Sulaeman saat membuka launching buku ketahanan dan kerentanan pangan (Food security and Vulnerability Atlas-FSVA) di Aula Villa Nadila, Senin (16/11/2020)

    Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya PJs.Bupati, Aslaman Sadik, Kabid. Ketersediaan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sultra, Aristos dan sejumlah unsur forkopimda serta perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) setempat.

    Sulaeman menyebut ketahanan pangan merupakan salah satu program prioritas nasional sehingga oleh pemerintah penting dikelola dengan baik. Hal itu, guna menjawab kerawanan pangan dari tingkat kota hingga desa-desa di seluruh Indonesia

    Persepsi itu dijawab Pemda Wakatobi lewat launching buku ketahanan pangan. Tujuannya, menyediakan sarana informasi bagi pengambil kebijakan agar menjadi langkah cepat mengindentifikasi daerah rentan pangan lewat beberapa infrastruktur penunjang guna memberikan dampak ketahanan pangan.

    Menurutnya, lewat buku tersebut ditemukan hasil analisis peta ketahanan pangan yang beragam diantaranya dari 100 Desa dan Kelurahan di Wakatobi hanya terdapat satu desa masih menempati urut satu tingkat kerentan pangan yakni desa Lentea kecamatan Kaledupa Selatan dengan persentase sebesar 1 persen.

    Hal senada diungkap PJs.Bupati,Drs.Aslaman Sadik menyebut peta tersebut menggambarkan kondisi ketahanan dan kerentanan pangan yang dirinci tingkat Kecamatan, Kelurahan dan Desa di Kabupaten Wakatobi dengan mengunakan enam indikator yang mencerminkan tiga aspek ketahanan pangan baik ketersediaan, akses dan pemanfaatan pangan.

    "Secara umum gambaran yang dihasilkan dari peta ini cukup memberikan keragaman hampir semua indikator maupun gambaran menyeluruh (Komposit) dimana dari 8 kecamatan pada 100 Desa dan Kelurahan telah dianalisis lewat FSVA didapati sejumlah hal prioritas", paparnya.

    Ia turut menyebut satu demi satu tingkat prioritas dimaksud, diantaranya priotitas 1 mencakup tingkat kerentanan pangan sangat tinggi terdapat 1 Desa, di Desa Lentea lalu keretanan pangan sedang terdapat 5 desa dengan angka persentase sebesar 5 persen.

    "Prioritas ke-3, kerentanan paling sedang terdapat pada 15 desa sebesar 15 persen demikian prioritas 4 terdapat 14 Desa sebesar 14 persen agak tahan terhadap ketahanan pangan", tambahnya.

    Untuk prioritas ke-5 dan 6 tahan dan sangat tahan terhadap ketahanan pangan sebanyak 20 dan 45 Desa dengan persentase sebesar 20 hingga 45 persen. Artinya sebagian besar Desa-Desa di Wakatobi lebih besar Desa yang sangat tahan terhadap ketahanan pangan.

    "Hal ini menunjukkan telah terjadi peningkatan kondisi ketahanan pangan wilayah karena berbagai upaya pembangunan yang dilakukan oleh kita semua, gambaran ini juga sejalan dengam kondisi kemiskinan di Kabupaten Wakatobi yang terus turun secara signifikan,''  tuntasnya.

    Di Desa-Desa yang masih rawan tersebut terutama Desa Lentea Kecamatan Kaledupa Selatan disebut salah satu faktornya adalah perubahan iklim selain distribusi pangan dan gejolak harga yang terjadi.

    "Oleh karenanya, saya mengajak kita semua untuk bekerja keras lagi, tuntas dan ikhlas guna mewujudkan Kabupaten Wakatobi lebih baik lagi dimasa akan datang,''  pintanya.

    Satu sisi bahwa adanya peluncuran buku itu juga mempengaruhi arah pedoman penyusunan kebijakan strategis, program dan kegiatan pada setiap tahapan khususnya setiap lokasi yang tergambar dalam peta.

    "Persoalan pangan dan gizi bersifat multidimensi dan isu global, untuk itu penyelesaiannya tak bisa dilakukan secara parsial namun harus dilakukan pada tatanan koordinasi yang cepat, tepat, menyeluruh dan berkesinambungan,''  tutupnya. (*)


    Penulis | La Ilu Mane