• La Djuma La Daima : Bawaslu Wakatobi Antara Ada dan Tiada

image_title
Ket: Mantan ketua Bawaslu Wakatobi, La Djuma La Daima
  • Share

    BUMISULTRA

    WAKATOBI - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara(Sultra) terus menerus tugas pengawasannya dipertanyakan publik atas hebohnya jagatmaya dugaan bagi-bagi beras dan uang Samsu Umar Abdul Samiun saat tengah berlangsungnya Pilkada daerah itu. Diantaranya adalah mantan ketua Bawaslu, La Djuma La Daima via whatsapp pribadinya, Jum'at (13/11/2020).

    Alumni UHO angkatan 2005 itu, menyoal sikap diam Bawaslu Wakatobi padahal perangkat kerja Bawaslu secara berjenjang mulai dari tim kelurahan desa(TKD), pengawas pemilihan lapangan (PPL) serta Panwascam tak sedikit jumlahnya turut mengawasi proses kampanye berlangsung.

    Kata dia, munculnya sosok politisi Buton, Umar Samiun panggilan pendek Samsu Umar Abdul Samiun keliling beberapa pulau di Kabupaten Wakatobi menyertakan bantuan Covid-19 berupa beras 10 liter dan uang sebesar Rp.100.000 per orang tersebut pihak Bawaslu tak boleh diam

    Apalagi Umar Samiun belum lama diketahui mundur jadi tim Paslon Haliana - Ilmiati Daud(HATI). Salah satu paslon bertarung Pilkada Wakatobi selain bantuan atas nama Covid-19 itu tidak dilakukan koordinasi pihak terkait yakni tim gugus tugas covid-19 daerah setempat.

    "Ketika infaq disalurkan, apakah diikuti oleh tim atau paslon HATI. Ini harus dijawab oleh Bawaslu Wakatobi. Tak perlu nunggu laporan. Kan ada TKD, PPL, Panwascam. Pimpinan dan tim media Bawaslu setelah menelaah informasi, undang media, segera konfrensi pers",ungkapnya.

    Masih sesuai penjelasannya, Bawaslu Wakatobi mestinya mampu memberi bukti bahwa secara kelembagaan masih menegakkan prinsip profesionalitas, berintegritas sehingga tak tertuding diboncengi oleh kepentingan tertentu atas sikap diamnya.

    "Kalau ini tidak disikapi segera akan jadi blunder. Akan merusak tatanan dan aturan berlaku.Akan saling serang, serangnya terbuka lagi", tambahnya.

    Lebih dalam menyebut bahwa cara yang dilakukan Umar Samiun bisa saja dilakukan oleh person tertentu, bukan tim tapi simpati Paslon lainnya maka bisa dipastikan akan ada infaq besar-besaran tak terduga, dan itu bisa merusak proses berdemokrasi

    "Jika ini terjadi, makin kisruh demokrasi kita di Wakatobi. Bawaslu seperti tak berguna nantinya.
    Bawaslu antara ada dan tiada. Kan kasian lembaganya", bebernya.

    Menyoal netralitas lembaga pengawas Pemilu itu. Ia juga turut memberi pendapat. Sambungnya, diluar kelembagaan hampir setiap orang sulit dikatakan netral akantetapi tiap orang harus punya integritas.

    Menurutnya,integritas itu merupakan rekam jejak seseorang dimana seseorang yang punya integritas itu tetap berdiri diatas aturan undang-undang meskipun ia ibaratkan dalam menghadapi situasi apapapun, langitpun akan runtuh

    "Atas dugaan Bawaslu yang tidak netral. Itu masalah rasa tapi Bawaslu harus bisa menjawab keresahan publik tersebut dengan narasi dan kerja. Perbanyak diskusi dan koordinasi dengan para pihak agar semua kerja-kerja pengawasan jadi transparan dan terukur apalagi dizaman serba digital", sambungnya.

    Guru Matematika SMN.2 Wangi-Wangi Selatan itu bahkan secara terbuka meminta publik memastikan dugaan tidak netral Bawaslu tak sebatas polemik di media sosial namun lebih mengedepankan asas praduga tak bersalah dan tak mengabaikan lembaga berkompoten menilainya.

    "Jika publik juga merasa ada ketidakwajaran dari kerja-kerja Bawaslu, misalnya tidak netral, publik Wakatobi bisa melapor ke DKPP,'' tutupnya.

    Awalnya, sosok Umar Samiun nampak dalam video berdurasi 30 detik dan 29 detik yang diunggah oleh Akun Facebook, Muezza Muezza diberi caption ‘Bos aspal dilawan, rontok dengan Kumismu itu’.

    Satunya lagi,diupload oleh akun Nur Cahaya S dengan caption ‘ Pasar Rame Gais,,,,, Nomor 2″ yang dibagikan lewat beranda Facebook, Wakatobi Online.

    Terlihat dalam video-video itu, Umar Samiun sedang membagi-bagikan uang dengan nilai nominal Rp 100.000 kepada sejumlah pedagang di pasar sentral di Wangi-Wangi Selatan di iringi teriakan nomor 2.

    Tak hanya itu, sejumlah media lokal di Sultra ikut memberitakan bagi-bagi beras 10 liter perorang, diklaim sebagai bantuan Covid-19. Lewat pernyataan terbuka Umar Samiun bahwa bantun tersebut diperuntukkan bagi yang membutuhkan berdampak Covid-19.

    Umar Samiun sendiri adalah deklarator Paslon HATI lalu menyatakan mundur lewat surat resminya tertanggal 2 November 2020 disampaikan ke KUPD dan Bawaslu Wakatobi

    Kendati demikian, kunjungan Umar Samiun dalam momentum bagi-bagi sembako itu. Tepatnya pertanggal 8 November, ia bertolak dari pelabuhan Numana,Wangi-Wangi Selatan menuju pulau Kaledupa menggunakan kapal KM.Nur Rizky ditemani Paslon Bupati nomor urut 2, Haliana. (*)


    Penulis | La Ilu Mane