• Meretas Model Pembelajaran Konstruktivisme di Era Digital

image_title
Ket: Ahmadi (Kasi Peserta Didik & Pembangunan Karakter Bidang Dikdas Dikbud Wakatobi).
  • Share

    BUMISULTRA

    Pendidikan  sebagai investasi terpenting bagi kemajuan suatu bangsa. Pendidikan telah menjadi titik fokus utama dalam upaya mempersiapkan generasi masa depan yaitu generasi Indonesia Emas 2045. Di balik tiap ilmu yang diserap dan setiap keterampilan (skill) yang dipelajari oleh anak bangsa, terbentang jalan panjang menuju masa depan yang lebih cerah.  

    Dalam perjalanan ini, guru berperan sebagai sokoguru membangun fondasi pengetahuan, membentuk karakter, dan menginspirasi generasi penerus. Guru tak hanya menyampaikan materi pelajaran, namun juga membentuk nilai-nilai (value) yang membawa perubahan dalam masyarakat.

    Dengan demikian, peran guru tidak hanya terbatas pada ruang kelas, melainkan juga sebagai sosok yang membawa harapan akan kemajuan bangsa. Pendekatan Freire telah menginspirasi pendekatan pendidikan yang lebih demokratis, berfokus pada pemberdayaan siswa, penghargaan terhadap pengalaman mereka, serta pendorong perubahan sosial yang lebih besar.

    Di tengah laju perkembangan teknologi, perubahan dalam pendekatan pembelajaran menjadi krusial, terutama di daerah yang mungkin memiliki tantangan akses seperti Wakatobi. Penggabungan model pembelajaran konstruktivisme dengan era digital menjadi sebuah potensi besar untuk meretas jalur pendidikan yang lebih inklusif dan berdaya saing di daerah tersebut.

    Konstruktivisme: Fondasi Pembelajaran Aktif

    Model pembelajaran konstruktivisme menekankan peran aktif siswa dalam membangun pengetahuan mereka sendiri. Pendekatan ini menyoroti pembelajaran yang berpusat pada siswa, memungkinkan mereka untuk menjadi pengambil inisiatif dalam proses pembelajaran. Dalam konteks Wakatobi, di mana sumber daya mungkin terbatas, pendekatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali pengetahuan melalui interaksi dengan konten digital.

    Tantangan Aksesibilitas Teknologi

    Meskipun potensi besar dari integrasi model konstruktivisme dengan teknologi, tantangan aksesibilitas menjadi hambatan utama. Wakatobi, seperti daerah lain di Indonesia, mungkin menghadapi kendala dalam infrastruktur teknologi dan akses internet yang konsisten. Keterbatasan ini memerlukan langkah-langkah strategis untuk memastikan bahwa manfaat teknologi dapat dinikmati secara merata.

    Penerapan model konstruktivisme di era digital tidak bisa dilakukan tanpa keterlibatan aktif dari guru, orang tua, dan komunitas. Pelatihan bagi guru untuk menggunakan teknologi secara efektif dalam proses pembelajaran, dukungan orang tua dalam memfasilitasi pembelajaran di rumah, dan dukungan dari komunitas dalam memastikan akses terhadap teknologi adalah kunci keberhasilan implementasi model ini di Wakatobi Saat melihat potensi dan tantangan, inovasi dalam pendidikan lokal sangatlah vital.

    Menciptakan konten pembelajaran yang relevan dengan realitas lokal Wakatobi, memanfaatkan sumber daya lokal sebagai bahan pembelajaran, dan mengembangkan solusi teknologi yang sesuai dengan infrastruktur yang ada menjadi langkah penting dalam mewujudkan konsep pendidikan inklusif di daerah ini.

    Zaman modern seperti ini perkembangan-perkembangan sangat pesat terutama perkembangan teknologi yang terjadi di negara maju maupun negara berkembang. Teknologi yang berkembang sangat pesat menuntut ketersediaannya sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu menjawab tantangan zaman. Dalam hal ini pendidikan berperan penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk mendukung pendidikan yang baik Mendikbud mengeluarkan kebijakan Program Merdeka Belajar. Konsep Merdeka Belajar sendiri relevan dengan teori pembelajaran konstruktivisme.

    Dalam pelaksanaannya pembelajaran ini juga akan meningkatkan kemampuan kognitif. Kemampuan kognitif diperlukan dalam menyelesaikan permasalah kompleks. Hal ini sesuai dengan materi matematika yang memerlukan kemampuan kognitif yang baik untuk menyeselaikan permasalahan kehidupan nyata.

    Matematika sendiri merupakan ilmu yang paling umum digunakan karena diperlukan diberbagai bidang kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bahwa Program Merdeka Belajar relevan dengan pembelajaran konstruktivisme, dan mendeskripsikan pembelajaran konstruktivisme dengan peningkatan kemampuan kognitif siswa matematika

    Konsep Merdeka Belajar sendiri relevan dengan teori pembelajaran konstruktivisme. Dalam pandangan konstruktivisme siswa mengkonstruksi pengetahuan sebagai hasil interaksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapi. Hal ini sesuai dengan matematika yang sangat erat dengan kaitannya dengan pemecahan masalah. Dalam pembelajaran konstruktivisme siswa dibebaskan untuk mengkonstruksi sendiri pemahamannya mengenai materi yang mereka pelajari sehingga dalam prosesnya siswa lebih senang dan

    enjoy. Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan  tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh setiap orang. (Rangkuti, A. N.,2014).

    Menurut Dahar, R.W (Dikuti dari , 2018), Implikasi pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran yaitu pertama, dalam mengajar guru harus memperhatikan pengetahuan awal siswa yang dibawa dari luar sekolah.

    Kedua, mengajar bukan berarti meneruskan gagasan/ide guru kepadasiswa, melainkan merupakan suatu proses untuk mengubah gagasan/ide siswa yang sudah dimilikinya yang mungkin salah. Konstruktivisme adalah teori perkembangan kognitif yang menekankan kepada pembelajaran dalam  membangun tentang pemahaman peserta didik mengenai realita. (*)

     

     

     

    Anak senantiasa aktif serta bisa menciptakan metode belajar yang tepat untuk dirinya. Pendidik cumalah berperan bagaikan mediator, fasilitor, serta sahabat memberikan suasana menyenangkan agar terbentuknya konstruksi kemampuan anak (Carol Seefeldt& Barbara A. Wasik, 2008). Teori kontruktivisme menyatakan bahwa anak berkembang melalui bantuan pendidik dengan program interkasi sosial, fisik ataupun mental. Anak dididik sedemikian rupa ketika disekolah oleh pendidik dengan tahapan ini memberipandang pada pendidik mengenai kesiapan belajar ataupun rasa optimis yang  dimiliki oleh anak didik. Selain itu dapat menirukan apa yang telah dicontohkan perlu menanamkan rasa pengertian pada anak yang kurang aktif dalam pemberian penjelasan dari pendidik (Ulfadhilah, K., 2021). Model belajar konstruktivisme, seperti yang dijelaskan oleh Robert Slavin, menekankan pada peran aktif siswa dalam membangun pengetahuan mereka sendiri. Prinsip utamanya adalah bahwa siswa secara aktif terlibat dalam pembelajaran, mereka membangun pemahaman mereka sendiri melalui pengalaman, refleksi, dan interaksi dengan materi pelajaran serta dengan orang lain.

     

    Kesimpulan

    Mengaplikasikan model pembelajaran konstruktivisme di era digital bagi siswa di Wakatobi menawarkan potensi luar biasa dalam mempersiapkan mereka untuk masa depan yang semakin terkoneksi. Namun, tantangan aksesibilitas teknologi dan keberhasilan implementasi bergantung pada kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan dalam pendidikan. Inovasi lokal menjadi kunci dalam meretas jalur pendidikan yang inklusif dan adaptif di era digital untuk siswa di daerah ini.

     

     


    Penulis | redaksi