• Dibalik Ter-OTT-nya Bupati Koltim

image_title
Ket: La Ode Ida
  • Share

    BUMISULTRA

    Bupati Kolaka Timur (Koltim), Andi Merya Nur (AMN), kini sudah pakai baju ‘orange’ tahanan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) buah dari OTT (operasi tangkap tangan). Tak sedikit orang terkejut atas kejadian memalukan itu. Ya…, mungkin mereka anggap dia orang baik, perempuan atau ibu rumah tangga yang menjaga marwah diri dan keluarganya. Apalagi perempuan itu masih tergolong usia muda sudah jadi Bupati, memiliki prospek sebagai salah satu srikandi yang jadi pimpinan daerah dari Sultra.

    AMN jadi Bupati memang sebuah nasib saja karena posisi aslinya dalam pilkada  Koltim hanya Wakil Bupati (juga sebelumnya adalah Wabup dari Bupati Toni Herbiansyah). Ia dilantik jadi Bupati setelah Allah secara tiba-tiba “memanggil Syamsul Bahri Madjid” untuk beristirahat selamanya di alam barzah. Maka banyak orang pun berharap agar di bawah sosok raga dan jiwa kepemimpinan perempuan Koltim bisa jadi lebih baik. Namun ternyata harapan itu bagai bayang-bayang semu saja alias fatamorgana.

    Bagi saya, ter-OTT-nya AMN merupakan hal biasa saja, saya tanggapi dingin saja. Tak ada yang luar biasa atas peritiwa itu. Pertama, setiap manusia punya watak rakus, selalu tak puas dengan kepemilikan harta berdasarkan hak dasar sesuai aturan yang berlaku. Ya… kepala daerah umumnya tidak puas hanya dengan gajinya dan berbagai honor yang niscaya sudah bisa hidup layak bahkan sejahtera. Mereka selalu akan cari cara untuk menimbun kekayaan dengan jalan pintas.

    Dan karena berkuasa di mana semua bawahannya memiliki tingkat kepatuhan atau ketakukan yang tinggi, maka posisinya itulah yang dimanfaatkan untuk memperoleh bagian dari uang negara yang dikelola di bawah kendalinya. Sekali lagi, watak rakus. Di mana para pelakunya terkadang menipu mata dan rasa publik dengan menampilkan diri seolah-olah reliji, padahal di balik itu sangat jauh berbeda.

    Kedua, AMN tentu saja sudah pengalaman menjadi penonton perilaku dan cara-cara korup selama 5 (lima) tahun jadi Wabup. Pada saya, AMN beberapa kali mengeluhkan kondisi perilaku kotor di daerahnya, di mana terhadap saya pun mengesankan seolah-olah dia bisa lebih baik atau lebih pantas memimpin Kolut. Atau setidaknya, mengganti Pak Toni Herbiansyah sebelum pilkada barangkali akan bisa jadi Koltim lebih baik – tentu niatnya AMN-lah yang akan menggantikannya ketika Bupatinya bermasalah secara hukum.

    Kasus-kasus seperti yang diinfokan oleh AMN saat itu pun pernah masuk sebagai aduan di Ombudsman, dan beberapa asisten dalam tim yang saya pimpin pernah turun melakukan investigasi ke Koltim secara tertutup. Hasil temuan itu juga kami koordinasikan atau presentasikan di KPK. Jadi, sekali lagi, budaya praktik korup di Koltim sudah lama berlangsung, sehingga saya kira KPK sudah banyak informasi tentang itu. Sementara Kejaksaan setempat (di Sultra) masih terus diam saja hingga sekarang. Ini juga aneh, karena seharusnya KPK tak usah turun OTT di daerah yang jauh itu karena di sana sudah ada Kejaksaan dan juga kepolisian.

    Apa yang mau dikatakan di sini, bahwa sebenarnya ‘salah besar’ jika ada yang beranggapan bahwa di bawah AMN Koltim akan lebih baik atau lebih bersih. Sekali lagi ‘tidak akan’, dan terbukti memang saat ini aib itu sudah tersingkap alias diketahui publik. Begitu cepatnya Allah membuka aib AMN itu, seolah-olah tak memberi ampun. Padahal kalau AMN sholat, pasti akan selalu baca kata ‘wajburni’ di antara dua sujudnya. Rupanya Allah tak mengabulkan do’a AMN itu, entahlah.

    Yang menarik lagi, jika kita sedikit telisik ke belakang, AMN ini pernah melakukan aksi ‘norak’, di mana setelah dilantik jadi Bupati yang menyampaikan sikap politik ke publik, yakni tegaskan dukungannya untuk Cagub Sultra 2024. 

    Saya pun pernah menyampaikan catatan link kritik itu kepada seorang aktivis dan politisi perempuan yang mengenal atau berteman dengan AMN. Dan saya kaget dengan jawaban singkatnya: “karena dia maju Bang dibantu 13 M”. Wah, saya sangat berharap info dari teks WA ini tidak benar adanya atau hoax. Karena luar biasa, salah satu cukongnya juga adalah berambisi jadi Cagub, belum termasuk cukong-cukong lainnya. Luar biasa. Yang bersangkutan, dan juga kepala daerah atau tokoh-tokoh masyarakat bisa masuk dalam perangkap ijon politik untuk pertarungan pilkada 2024. Sultra nanti akan tergadai oleh para cukong dan pengijon politik. (**)


    Penulis | redaksi