• Memaknai Tahun Baru Hijriah 1443 dan hari Kemerdekaan RI ke-76 ditengah Situasi Pandemic Covid-19

image_title
Ket: Marsekal Muda TNI (Purn) H Supomo, S.I.P., M.Sc
  • Share

    BUMISULTRA

    Umat Islam khususnya masih dalam suasana bulan Muharram, tahun baru Islam 1443 H dan Hari Kemendekaan RI ke-76 dengan suka cita.

    Memaknai tahun baru Hijriah dan Hari Kemerdekaan RI ke-76 tahun ini, pertama-tama mari kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Pengasih, ditengah-tengah suka duka pandemic Covid-19 yang sampai saat ini belum juga berlalu.  Mengawali tahun baru hijriah ini mari kita berdoa dan berharap agar wabah ini segera diangkat dan berlalu sehingga kita dapat hidup normal kembali.

    Kilas balik 1400 tahun lalu tepatnya 1 Muharram (22 Juli 622 M) dari perjuangan seorang nabi yang mulia, yang melakukan hijrah dari Makkah kota dimana beliau dilahirkan ke Madinah menjadi tonggak sejarah dalam perjalanan khususnya peradaban Islam.

    Seolah-olah peristiwa ini baru terjadi hari kemarin, bahkan seolah-olah kita juga ikut menjadi pelaku peristiwa mulia tersebut. Terbersit dalam hati kecil seandainya kita berada bersama nabi pada saat tentu akan ikut melakukan hijrah tersebut.  Hal ini menunjukkan peristiwa tersebut sarat makna dan nilai yang melintasi ruang dan  waktu yang akan terus hidup dalam sanubari manusia beriman sepanjang hayatnya. 

    Diawal waktu hijrah tercatat nabi meletakkan dasar tauhid (iman) dengan membangun masjid pertama Quba sebelum memasuki Kota Madina. Kemudian berselang beberapa lama beliau membangun pasar yang dikenal dengan pasar  Madina yang eksis hingga hari ini. Nabi membangun peradaban Islam dari komunitas kecil, dari masyarakat Makkah dan Madina.

    Ternyata dengan dasar keimanan dan kekuatan ekomoni komunitas yang solid, perjuangan penyebaran dakwah nabi terus berkembang dan sulit dibendung. Bahkan semakin meluas menjadi kekuatan politik yang dalam waktu singkat determinasinya hampir menguasai jazirah Arab dan Afrika.  Islam menjadi kekuatan hegemoni dikawasan jazirah Arab, selain kekuatan Romawi dan Persia. Perlahan peradaban Islam mulai tumbuh  kemudian menjadi peradaban dunia hingga kini. Pertanyaannya apa hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa hijrah tersebut, dan relevansinya saat ini ? 

    Dari sisi spiritual bulan Muharram merupakan bulan mulia yang sangat dianjurkan memperbanyak amal kebajikan. Apalagi dimasa pandemi saat ini peluang terbuka lebar untuk kita membangun empati sosial dan solidaritas. Sementara dari sisi muamalahnya peranan komunitas menjadi penting, bukan saja untuk menghadapi wabah pandemi Covid-19 dan krisis tetapi  juga menjadi sangat penting untuk membangun ketahanan, kesejahteraan dan kemandirian komunitas tersebut.  Komunitas yang memiliki ketahanan yang baik adalah komunitas yang produktif, sejahtera dan mandiri. 

    Lihat saja selama pandemi Covid-19 yang melanda tanah air telah menyebabkan banyaknya korban terpapar virus, terjadinya krisis ekonomi, PHK dan krisis lainnya. Adakah solusi dari dampak pandemi Covid-19 terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.  

    Bagaimana memaknai semangat  tahun baru hijriah dan hari Kemerdekaan RI ke-76 tahun 2021 akan lebih nyata bila dapat diaktualisasikan dalam dinamika masyarakat dan pembangunan disuatu wilayah, seperti di Sulawesi Tenggara. Seperti juga daerah lainnya di Indonesia yang terpapar Covid-19, daerah Sultrapun mengalami krisis yang sama. Bagi daerah-daerah yang bertumpu pada pertanian, perikanan dan pertambangan dampak pandemi mungkin tidak terlalu parah.

    Namun untuk daerah tertinggal di Sultra yang hanya bertumpu pada alokasi dana dari pusat dampak pandemi ini akan sangat terasa tekanannya. Lesunya kegiatan ekonomi daerah, naiknya biaya kesehatan, menurunnya produktifitas masyarakat dan meningkatnya tunakarya akan menyebabkan turunnya PAD.

    Pertumbuhan ekonomi daerahpun akan terganggu, dan kemampuan pemerintah untuk membuka lapangan pekerjaan akan terkendala. Hal ini juga akan memicu timbulnya masalah sosial yang kompleks. Untuk itu pemerintah daerah harus bisa survive dari dampak yang ditimbulkan pandemi Covid-19, paling tidak untuk jangka pendek maupun jangka menengah. Banyak pendekatan yang dapat diterapkan sebagai jalan keluar dari masalah ini, seperti pemberdayaan penta helix yang ada didaerah tersebut, didukung adanya intervensi tehnologi khususnya literasi digital.

    Issu intervensi tehnologi tehnologi ini sebenarnya sudah diwacanakan 3-4 tahun lalu di Sultra. Sektor yang jelas mendapatkan porsi teratas adalah Politik yang menjadi agenda yang secara rutin setiap 5 tahunan.  Namun untuk pembangunan tehnologi ini pemda maupun masyarakat belum menjadikannya prioritas.

    Tidak mengherankan karena kami melihat perkembangan tehnologi di daerah Sultra dalam kurun waktu 5 dasa warsa sangat tertinggal. Sementara daerah lain sudah berlomba mengembangkan smart city dalam era revolusi industry 4.0.  Padahal dalam pemahaman kami mulai pada era tahun 60an di Kota Raha di jalan Dr.Sutomo (dulu Jl.Pisang) sudah ada komunitas yang mengembangkan industri rumahan seperti bidang elektronika, jam tangan (arloji), pembuatan sabun, kerajinan tangan alat music, seni lukis, kerajinan emas dan perak yang pada saat itu masih sangat langka di daerah Sultra. Semestinya masalah Iptek, daerah Sultra tidak boleh tertinggal.

    Kiranya masa pandemi Covid-19 ini menjadi momentum untuk daerah Sultra mulai hijrah dan bangkit dari ketertinggalannya, dari era analog  menuju digitalisasi. Potensi sektor tambang, pertanian dan perikanan yang besar daerah ini  harus dapat dimanfaatkan seluas luasnya bagi pembanguan daerah demi kesejahteraan masyarakat. Dimulai dari pemberdayaan dan pembanguan komunitas di Sultra yang dikenal memiliki ikatan yang kuat. Biasanya sering dipergunakan pada pesta demokrasi “Pilkada”, kemudian idle (nganggur) menunggu Pilkada berikutnya.

    Kini potensi komunitas diberdayakan agar mampu menjadi mesin ekonomi yang produktif, tumbuh mandiri dan sejahtera. Melalui berbagai kegiatan ekonomi yang didukung oleh tehnologi informasi.  Komunitas yang ada dimasyarakat harus go digital, segala potensi yang ada dikomunitas tersebut dipasarkan di-market place (pasar digital) salah satunya adalah melalui KOZII.id yaitu market place yang berbasis komunitas pertama di Indonesia. KOZII memiliki visi untuk mensejahterakan masyarakat. Termasuk komunitas para guru, honorer, nelayan, petani, UMKM dengan kegiatan yang produktif menuju kepada kesejahteraan dan kemandirian.

    Komunitas yang produktif akan menciptakan masyarakat yang tangguh dan sejahtera. Hal ini tentunya ada kaitannya dengan pembangunan daerah. Pembangungan komunitas adalah sebuah langkah hijrah masyarakat yang selaras dengan semangat ditahun baru Hijriah dan hari Kemerdekaan RI ke-76 bulan Agustus 2021.

    Semangat hijrah tetap relevan, bahkan menjadi enerji untuk bisa keluar dari krisis menuju kondisi yang lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Sebuah ungkapan untuk kita selalu produktif.

    Penulis : Supomo, praktisi pendidikan Unsurya, Jakarta


    Penulis | Safar