• Dampak COVID- 19 Terhadap Nelayan

image_title
Ket: Raden Dwiki Julianti
  • Share

    BUMISULTRA

    Corona Virus Disease 2019 (COVID 19) pertama kali di identifikasipada Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok. Hal ini menyebabkan maraknya pandemi dan menimbulkan kepanikan masyarakat di seluruh dunia saat ini. Akibat yang ditimbulkan dari adanya pandemi ini adalah pola konsumsi dan pekerjaan sehingga menyebabkan perubahan terjadi pada pasar komoditas oangan yang salah satunya adalah ikan.

    Adanya ketidakpastian kondisi dan tingginya kekhawatiran terkait kesehatan ini terjadi di dalam kehidupan sosial masyarakat, salah satu nya yaitu masyarakat nelayan. Faktor COVID 19 ini sangat mempengaruhi pendapatan para nelayan dimana harga ikan mengalami penurunan drastis hingga mencapai 50%. Padahal hal ini tidak sebanding dengan usaha dan biaya operasional yang dikeluarkan saat akan melakukan penangkapan ikan di laut.

    Selain itu, saat ini pemerintah telah memberlakukan kebijakan mensosialisasikan dan menerapkan sosial distancing, physical distancing, work from home (WFH), dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang tercantum pada peraturan pemerintah RI No. 21 tahun 2020.

    Kebijakan tersebut sangat menyulitkan bagi pelayan lokaldan industri perikanan tangkap dalam kegiatan memasarkan hasil tangkapan mereka. Akibatnya, hasil tangkapan nelayan banyak mengalami kemunduran mutu dan bahkan membusuk. Tidak hanya itu, beberapa gudang penyimpanan ikan (cold storage) terjadi penumpukan bahan baku ikan atau over stock  karena tidak dapat di suplai ke luar daerah sebagaimana biasanya.

    Akibat pandemi ini yang sering luput dari perhatian pemerintah adalah akses pendidikan bagi anak-anak para nelayan. Dimana yang kita ketahui bahwa saat ini pemerintah telah menerapkan pembelajaran jarak jauh alias metode daring dengan listrik dan internet yang menjadi penunjang utama demi terjalannya pembelajaran metode daring secara baik.

    Namun, sebagian besar pulau pesisir tidak memiliki akses internet yang baik,  dan juga akses listrik yang menyala kurang lebih 6-12 jam setiap hari. Sehingga hal ini menyulitkan bagi anak-anak para nelayan menjalani pembelajaran jarak jauh dengan metode daring. (*)

    Penulis : Raden Dwiki Julianti, Mahasiswa Poltekkes Kendari


    Penulis | redaksi




Berita Terpopuler