• Merombak Watak Bangsa

image_title
Ket: Ahmadi
  • Share

    BUMISULTRA

    Di saat merebaknya virus corona saat ini sangat menghawatirkan dunia sejagad, bahkan Badan Kesehatan Dunia, WHO menyatakan virus corona atau Covid-19 sebagai pendemi, di dalam negeri juga diterpa berbagai masalah-masalah yang menjadi sorotan dan perhatian publik.

    Akhlak bangsa ini dipertaruhkan tatkala bangsa Indonesia dalam tekanan sosial, ekonomi sulit sebagai dampak pendemi virus Covid-19 yang mematikan ini. Di ranah pendidikan kasus bullying menjadi isu menarik akhir-akhir ini.

    Aksi pemukulan terhadap kepsek terjadi di Jambi (3/3/2020) seorang wali/orang tua siswa memukul kepsek lantaran tak terima ponsel anaknya disita saat ujian. Penganiayaan guru juga terjadi dilakukan tiga pelajar SMA Negeri 1 Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak NF (15) membunuh APA (5) di Sawah Besar Jakarta Pusat.

    Polisi mengatatakan, tersangka mengaku terinsipirasi film pembunuhan.  Beberapa waktu lalu kasus dugaan perundungan berupa penganiayaan terhadap salah seorang siswa SMP di Purworejo menjadi viral di media sosial. Kasus yang saat ini ditangani oleh Polres Purworejo, terungkap setelah beredar video aksi kekerasan yang menimpa seorang siswi. Sebelumya, di dalam negeri  kasus korupsi Jiwasraya, OTT korupsi komisioner KPU, kasus Ratu Agung Sejagad Purworejo Jawa Tengah hingga investasi bodong Memilies di Jawa Timur menyeret nama-nama figur publik   sempat  menjadi pemberitaan di berbagai media cetak maupun online.

    Beberapa kasus besar terbaru menyita perhatian publik di awal tahun 2020 ini tentu pukulan berat bagi bangsa besar Indoensia, sebab jargon ‘Indonesia Maju’ yang didengungkan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf saat ini seakan ‘mati suri’ paling tidak belum menjadi spirit kebangsaan menuju civil society sebagai ciri masyarakat berkeadaban dalam menjalankan pembangunan disemua sektor.

    OTT salah seorang Komisioner KPU RI,  WS, juga isyarat rapuhnya lembaga penyelanggara pemilu sebagai pengawal demokrasi, Padahal, negara kita  beberapa tahun terakhir didaulat sebagai negara demokrasi terbesar ke-5 dunia. Dengan kasus  tersebut meruntuhkan dan memprihatinkan semua pihak sebab bangsa ini terkenal dengan karakter khas Indonesia yaitu beradab, santun dan berakhlak mulia serta agamis.

    Inilah ujian awal tahun bangsa yang terbaru kasus perundungan (bullying) dikalangan pelajar, kasus Jiwasraya, dan narkoba juga menyeret figur publik ternama di tanah air, maupun kasus korupsi dari hulu hingga hilir tiada henti mesti jadi bahan perenungan semua komponen bangsa.

    Dimensi Pengembangan Manusia (Human Development)

    Carut marut bangsa saat ini, mencakup korupsi besar seperti Kasus Jiwasraya, terus menjadi pemberitaan luas dan hangat dibicarakan dimana-mana, menurut hemat penulis jelas akan menjadi preseden buruk yaitu hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan BUMN,  demikian juga OTT salah seorang komisioner KPU RI begitu melukai bangsa ini sebagi indikasi bahwa rapuhnya sistem demokrasi dalam kerangka mekanisme cheks and balances seperti dikehendaki konstitusi tidak tercapai atau dikhawatirkan tidak berjalan disebabkan terjadinya reduksi moral dari penyelanggaraan  pemilu yang diharapkan luber dan jurdil.

    Perilaku elit menyimpang seperti korupsi adalah perangai buruk (watak) tidak etis dan mempertontonkan kemewahan hasil korupsi  di tengah masyarakat adalah wujud kepekaan sosial yang sudah memudar, contoh tidak terpuji dan melukai perasaan rakyat sebagai pemegang kedaulatan.

    Dampak itu semua, mendorong demoralisasi, kesenjangan ekonomi melebar, tingkat pengangguran, penyalahgunaan rarkoba dan konflik sosial dan kriminalitas. Dengan upaya peningkatan kualitas pengembangan manusia (human development) di Indonesia percepatan pembangunan disemua sektor kehidupan akan tercapai sesuai cita-cita dan  tujuan nasional seiring kualitas mentalitas dan moral bangsa.

    Energi positif bangsa sebagai daya dobrak yang memberikan harapan baru bagi terciptanya ekosistem kehidupan ekonomi produktif, kemajuan pendidikan berdaya saing global dengan karakter bangsa yang unggul menuju revolusi industri 4.0. Generasi unggul cerdas berakhlak mulia memiliki skill , mampu beradaptasi dan berkompetisi secara global adalah solusi keterpurukan bangsa untuk cepat beradaptasi dengan perubahan global yang kian dinamis dan sulit diprediksi.

    Infrastruktur fisik vs  infrastruktur moral

    Tanpa panduan nilai, gerak langkah pembangunan fisik bisa tersesat salah arah, melenceng dari tujuan nasional. Bila saat ini kehidupan negeri diliputi kabut apatisme dan pesimisme. Riuh kegaduhan tanpa solusi, banyak gerakan jalanan tanpa tahu ke mana arah yang benar, rasa saling percaya lenyap dalam pergaulan, hukum disalahgunakan, kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan, sebab utamanya kita mengalami tunanilai.

    Nilai sudah lama ditinggalkan dalam pembangunan (Yudi latif,2018).  Memberikan panduan tentang tindakan apa yang dapat dilakukan orang dewasa untuk mendorong perkembangan moral anak-anak di sekolah juga jauh lebih penting, demikian dimuat dalam Bloomsbury Academic London, (Tony Eaude, 2016).  

    Guru besar ini berfokus pada etika kebajikan yang menganalisis pada jenis lingkungan belajar yang cenderung mendorong perkembangan moral, dan bagaimana lingkungan ini dapat dibawa ke sekolah melalui kegiatan, struktur ruang dan waktu, serta tindakan dan sikap guru.

    Ini sangat penting karena dampak lingkungan sering diabaikan dalam pendidikan moral. Eaude kemudian mulai menyoroti pentingnya bermain dalam hal menjadi ruang yang aman untuk bereksperimen dengan perilaku yang benar dan salah, dan membahas jenis bahasa yang dapat digunakan guru, dan contoh praktis serta harapan yang mungkin mereka tetapkan.  Perhatian pendidikan dengan pembentukan karakter pada anak-anak adalah fitur dari sejarah sosial modern dalam banyak konteks internasional, didorong oleh beragam tujuan politik, sosial dan ekonomi.

    Dimulai dari lingkungan sekolah

    Kasus bullying disekolah akhir-akhir ini juga menjadi tamparan bagi dunia pendidikan. Lemahnya pengawasan guru maupun kontrol orang tua menjadi sorotan publik. Ironisnya, kasus bullying muncul disaat program merdeka belajar didengungkan Mendikbud Nadiem Makarim dimana dalam program merdeka belajar porsi penilaian karakter siswa menjadi lebih utama ketimbang transfer pengetahuan semata.

    Karakter pendidikan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moralitas, budaya bangsa, dan agama. Bangsa yang memegang teguh aturan agama dan prinsip budayanya akan selalu menjalankan budayanya. Bangsa terkuat ditandai dengan implementasi karakternya. Pendidikan karakter tidak dapat dibentuk secara spontan tetapi dikembangkan karena anak-anak ada di rumah. Keluarga adalah pembelaan pertama dan utama dalam mendidik anak-anak untuk orang dewasa dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab.

    Salah satu komponen yang mempengaruhi pendidikan karakter bangsa adalah kurangnya implementasi nilai-nilai moral, agama, dan budaya bangsa. Pendidikan adalah salah satu pembelaan nilai-nilai karakter bangsa. Oleh karena itu, pendidikan karakter di sekolah harus terus dilaksanakan secara integratif dalam proses pengajaran dan harus dimasukkan ke dalam kurikulum. Analisis ini menggunakan metode studi dokumen.

    Hasil analisis menyimpulkan beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya pendidikan karakter dalam pendidikan i: berkurangnya nilai-nilai moral, agama, dan budaya. Beberapa tindakan yang harus dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengatasi kurangnya nilai-nilai moral bangsa di sektor pendidikan seperti di sekolah adalah bekerja secara kolaboratif dengan media seperti televisi untuk menyiarkan budaya Indonesia seperti yang telah dilakukan sebelumnya pada televisi seperti: wayang, tarian atau lagu lokal, industri lokal tertentu, dan peran swadaya masyarakat.

    Dari prespektif Kurtilas (Kurikulum 2013), menurut Lewin dalam Andersen, 1980, perilaku atau behavior seseorang merupakan fungsi dari watak yang terdiri atas kognitif, afektif, dan psikomotor, serta karakteristik lingkungan saat perilaku atau perbuatan ditampilkan. Oleh sebab itu perilaku seseorang ditentukan oleh watak dan keadaan lingkungannya. Hasil belajar domain afektif adalah keterampilan yang dimiliki peserta didik dalam hal pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan bagi masyarakat.

    AKM dan tantangan guru masa depan

    Kebangkitan dan tren akhir-akhir ini tentang minat dalam pendidikan karakter telah menghasilkan sejumlah besar pendekatan dan sumber daya (resources), mulai dari rujukan yang tertanam dalam etika kebajikan neo-Aristotelian yang dikembangkan oleh Jubilee Center for Character and Virtues, hingga teknik untuk regulasi emosi negatif yang ditawarkan oleh Psikologi Positif Model Seligman (2002) .

    Pendekatan ini mencakup Model Kecerdasan Emosional berfokus pada sifat-sifat karakter 'positif' yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan produktivitas. Jubilee Center merangkul pendekatan yang lebih luas, dengan mempromosikan moral, kewarganegaraan, intelektual dan kinerja kebajikan (Arthur et al., 2015).  

    Pengenalan 'nilai-nilai fundamental dari demokrasi, supremasi hukum, kebebasan individu dan saling menghormati dan toleransi bagi mereka yang memiliki keyakinan dan kepercayaan yang berbeda dapat dilihat sebagai upaya untuk mendapatkan kembali kohesi sosial, hilang sebagai akibat dari peningkatan individualisasi di era digitalisasi.

    Dekonstruksi moral dan tatanan perilaku baik sebagai individual maupun hidup secara kolektif ber-bangsa yang bersifat mencerahkan dalam Kebijakan Pendidikan Nasional tertuang dalam Program Merdeka Belajar ala Nadiem Makarim boleh jadi solusi cerdas yang mampu menghantarkan siswa ke dunia-nya, sebagai contoh dengan bentuk soal AKM (Assesment Kompetensi Minimal) yang terdiri dari literasi bahasa dan numerik diberikan kepada siswa maupun guru merupakan tantangan masa depan guru dan siswa membentuk atmosfer baru dunia pendidikan bangsa diharapkan juga mampu menjawab persoalan paedagogik dan karakter (akhlak) siswa, yang dapat teridentifikasi dalam akses ragam disiplin ilmu pengetahuan sebagai bekal masa depan peserta didik, dan bagaimana guru mengelola proses pembelajaran di kelas secara efektif dan efisien sehingga berkontribusi signifikan membangun karakter unggul siswa dan kualitas pendidikan di tanah air yang lebih maju.

    Transformasi nilai-nilai kebaikan

    Transformasi nilai-nilai kebaikan adalah sebuah keniscayaan untuk kemajuan disemua sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebaikan otentik sejatinya kebaikan lahir dan bathin tanpa dibuat-buat, membangun insan manusia Indonesia yang selalu jujur, tidak melahirkan manusia penuh topeng jauh dari perangai paling merasa benar (true believers).

    Inilah kebajikan otentik yang menguatkan kepribadian bangsa Indonesia. Buya Hamka menyatakan kemunduran suatu negara tidak akan terjadi kalau tidak kemunduran budi dan kekusutan jiwa. Dalam prespektif Islam, sebagai figur ummat, Rasulullah S.A.W adalah sosok manusia yang patut diteladani seluruh umat manusia sepanjang masa.

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi). Seyogyanya, bangsa ini bahu-membahu  mulai bangkit dengan spirit yang kuat dalam koridor keyakinan serta konsistensi akhlak (watak) terpuji dan mumpuni untuk memajukan dan mencerahkan bangsa. (*)

    *Penulis, Guru SMAN 1 Kendari & Mahasiswa Program Magister SDM STIE66 Kendari, Ahmadi


    Penulis | redaksi