• Joker dan Iblis

image_title
Ket: La Ode Rauda Manarfa
  • Share

    BUMISULTRA

    JOKER, film fenomenal dari Hollywood dirilis sejak 02 Oktober 2019, diperkirakan menjadi salah satu film tersukses di tahun ini. Film ini sendiri dibintangi oleh Joaquin Phoenix yang memerankan diri sebagai tokoh Joker melalui arahan sutradara Todd Phillips. Kisah yang diangkat adalah tentang seorang komedian gagal yang tidak dianggap ada oleh masyarakat tempatnya berada yang kemudian berubah menjadi sosok penjahat yang kejam.

    Berawal dari seorang komedian stand up yang jauh dari kata sukses. Cobaan hidup lainnya seperti ketika ia menjadi badut yang tidak lucu, pemegang papan penanda di jalan, terjerembab di sudut lorong, hingga menjadi olok-olokan yang ditayangkan live melalui siaran langsung televisi. Semua akumulasi kekecewaan itu melahirkan dirinya menjadi seorang pembunuh.

    Film yang secara khusus menayangkan tokoh musuh bebuyutan Batman ini konon mendapat penghargaan standing ovation selama kurang lebih 8 menit, tidak pula luput pujian dari para kritikus film. Film ini juga diperkirakan akan masuk dalam nominasi berbagai acara penghargaan film Internasional karena dinilai mampu merealisasikan imajinasi kisah yang sedemikian nyata.

    Terlepas dari sukses dalam menghadirkan film yang dinilai berkualitas oleh para sineas, penikmat film, dan kritikus, film ini sendiri juga turut membawa serta kekhawatiran utamanya bagi aparat keamanan utamanya di Amerika sendiri. Mengingat peristiwa berdarah yang terjadi 7 tahun silam, saat penayangan film yang didalamnya terdapat tokoh yang sama telah menelan korban jiwa akibat tindakan pembunuhan membabi buta seseorang hingga menghilangkan nyawa 12 manusia.

    Adanya hubungan inspirasi kejadian saat pemutaran film Joker pada masa lalu dengan pemutaran film serupa di masa sekarang sehingga membuat pihak otoritas keamanan di Amerika berkeras menolak segala atribut menyerupai Joker dipakai saat menonton film itu.

    Joker yang difilmkan sebenarnya menggambarkan realitas sosial yang ada di tengah kehidupan sehari-hari mulai pada masyarakat di negara maju hingga di negara berkembang. Bahwa terdapat sosok-sosok yang mengalami penyakit sosial delinkuensi, yakni perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang disepakati berlaku dalam kehidupan masyarakat tempat perilaku itu dipertunjukan. Perilaku yang tidak sesuai tersebut mendapat penolakan sehingga menjadi tidak terkoneksi secara baik dengan jaringan kehidupan sosial di mana ia berada. Ketika ia hendak mengakses jaringan tersebut ia mendapat repon yang tidak baik atau bahkan tertolak.

    Repon negatif yang terus menerus didapatkannya dapat memicu terjadinya perubahan perilaku yang permanen hingga kepribadian dari yang tadinya masih mengakomodasi nilai dan norma yang dianggap baik secara umum menjadi sebaliknya. Ia menikmati anomali dirinya, menjadi senang ketika ada yang menderita oleh ulahnya sebagai luapan pelampiasan perlakuan pada dirinya pada masa yang telah berlalu.

    Dalam agama Islam, sosok Joker yang mengalami delinkuensi memiliki kemiripan kisah dengan sosok Iblis. Bila Joker berubah jahat karena mendapat penolakan diri dari lingkungan sekitarnya maka Iblis demikian jahat karena kedengkiannya pada Nabi Adam manusia pertama yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersujud menyembahnya. Joker jahat karena lingkungan, Iblis jahat karena kedengkiannya. Keduanya sama-sama konsisten menjalankan perannya sebagai penjahat yang tadinya merupakan makhluk yang baik dan taat.

    Iblis sendiri sebelumnya dikenal dengan sebutan Azazil, yakni makhluk yang paling taat menyembah Allah SWT selain malaikat. Bila Malaikat diciptakan Allah SWT dari cahaya maka Azazil diciptakan dari api yang menyala tanpa asap. Konon Azazil merupakan satu yang diselamatkan oleh Allah SWT ketika terjadi pemusnahan kehidupan umat penghuni bumi karena kerusakan yang telah ditimbulkan. Azazil kecil kemudian diasuh dan dijaga oleh Malaikat dan mendapat berbagai pengetahuan yang diajarkan oleh Tuhan.

    Azazil yang saleh, ia taat beribadah kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Kesalehannya menyaingi malaikat. Hingga suatu saat Allah SWT menciptakan sebentuk makhluk lain yang berasal dari tanah, materi yang dianggapnya sangat rendah dan tidak layak dimuliakan. Allah SWT bertihtah agar seluruh ciptaannya menyembah makhluk baru itu, semua ikut perintah kecuali satu, dia Azazil.

    Dia merasa dengki karena sebagai senior ia harus menyembah junior yang materinya rendah pula. Azazil melawan perintah Sang Khalik, pada akhirnya ia dikutuk menjadi Iblis yang sesat dan dijamin menjadi penghuni tetap neraka pada waktu yang telah ditentukan. Iblis berubah dari yang tadinya baik menjadi jahat, dalam proses dialog yang diabadikan dalam Al-Qur’an ia menyatakan akan menyesatkan Manusia dan berpaling kepadanya agar menemaninya selamanya di Jahannam kelak.

    Joker dan Iblis, sama-sama pernah baik, sama-sama pernah berharap, sama-sama mendapat penolakan, sama-sama berubah menjadi jahat. Jika Iblis adalah karakter purba maka Joker adalah karakter kekinian yang ternyata memiliki nafas karakter yang sama dengan Iblis, sama-sama jahat dari yang dulunya pernah baik. Joker dari dunia film boleh saja dikategorikan bagus melalui berbagai kriteria teknis tentunya.

    Namun bila melihat kemiripan riwayat antara Joker dan Iblis, ini merupakan kabar buruk bagi umat manusia. Rupanya telah tiba masa di mana manusia berhasil mengemas kisah klasik kedurhakaan di mana perubahan baik menjadi jahat jadi tontonan atau bahkan tuntunan, yang perlahan tapi pasti membuat paham penontonnya akan karakter lain yang sejenis dengan Joker dengan tindakan jahatnya. Pada akhirnya akan muncul penyuka, pendukung, pecinta, dan bahkan pembela Joker. Satu yang saya khawatirkan yakni akan menular hingga menghdirkan para pendukung dan pecinta Iblis berwujud secara terang-terangan di tengah masyarakat kita yang masih mengakui eksistensi Tuhan Sang Pencipta.

    Jadilah penonton kritis. (*)

    Penulis : Mantan Bendahara Umum PB HMI Periode 2015 - 2017


    Penulis | La Ilu Mane