• Demokrasi adalah Ruang Tanpa Monopoli

image_title
Ket: Firnasrudin Rahim M. Kes bersama La Ode Muh. Ridwan saat berjumpa di Ibu Kota Negara.
  • Share

    BUMISULTRA

    Demokrasi merupakan ruang tanpa monopoli, Setidaknya itu merupakan keyakinan yang lahir Dari mereka yang masih menggenggam niat Dan cita-cita untuk membangun negeri. kutipan ini yang dapat saya simpulkan Dari diskusi dan analisa Kanda La Ode Muh Ridwan terkait demokrasi dan ruangannya.

    Saat itu, tepat tanggal 5 Maret 2019. Bertempat di salah satu sudut Ibu Kota Negara, saya berjumpa dengan salah satu pemuda sekaligus senior yang menjadi tempat berdialektika. Dia sosok tegas lagi bijak saat adik-adik hendak berdiskusi terkait pandangannya seputar persoalan yang menyangkut Daerah Otonomi Baru (Kab. Muna Barat).

    Tak Ada janji, Tak Ada kabar, perjumpaan kami bukanlah kebetulan. Sesuatu yang telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sebelum perjumpaan itu, saya pernah mendapat kabar bahwa beliau menjadi salah satu kompetitor di kompetisi legislator Kab. Muna Barat.

    Seketika perjumpaan Dan diskusi ringan kami mengarah ihwal kontestasi Legislator di kampung halaman kami.  Tercengan dengaan dakuannya “jika ruang demokrasi ketika dimonopoli maka yang hadir adalah kesenjangan Dan totalitarian”.  Dia menambahkan “Kesenjangan saat berekspresi membangun negeri hanya dapat diakses oleh kelompok masyarakat tertentu. Dan totalitarian merupakan konsekuensi saat kelompok ini memonopoli seluruh aspek strategis kehidupan. Seperti, ekonomi, kebijakan, politik bahkan sampai tingkah laku masyarakatnya” dakunya.

    Terpikir Dan hendak melanjutkan pandangan tadi. Bahwa demokrasi tidak hanya sekedar metode atau perangkat untuk menjamin hak atas setiap warga. Melainkan sebuah cita-cita bagi setiap warga yang berkeinginan untuk membangun negeri dengan metode apa pun.

    Saya mencoba lebih menyederhanakan dalam pahaman dengan contoh, saat seorang anak dari kelas masyarakat tertentu berhak mengakses pendidikan Dan bahkan menjadi aktor politik sekalipun. Negara telah menjamin melalui konstitusi Dan itu tanpa terkecuali.

    Sekejap, saya merasa tercerahkan atas diskusi singkat nan-berkualitas melalui perjumpaan yang tidak hanya sekedar. Dan ternyata beliau lusa tanggal 7 Maret 2019, akan berangkat kembali ke rumah di Muna barat.

    Opini tersebut di kutip dari sebuah catatan hasil diskusi dan analisa seorang sahabat yang bernama Firnasrudin Rahim M. Kes dengan salah satu senior La Ode Muh. Ridwan pada saat berjumpa di Ibu Kota Negara. (*)


    Penulis | Almuizu