• IKAPPI Sultra Minta Pemda Tingkatkan Pengawasan Penjualan Daging di Pasar

image_title
Ket: Ketua IKAPPI Sultra, Muh Fajar Hasan
  • Share

    BUMISULTRA

    KENDARI - Adanya temuan perdagangan daging anjing di Pasar Senen, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu mengundang keresahan di masyarakat. Menanggapi hal itu Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Sulawesi Tenggara (Sultra) meminta Pemerintah Daerah (Pemda) untuk lebih mengintensifkan pengawasan penjualan daging di pasar tradisional untuk menjamin keamanan bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat.

    Ketua IKAPPI Sultra, Muh Fajar Hasan, mengatakan, temuan penjualan daging anjing yang terjadi di pasar senen Jakarta mengundang kekhawatiran ditengah masyarakat, pasalnya pembeli merasa was-was dari peredaran penjualan daging anjing tersebut.

    "Harus ada pengawasan yang lebih intensif dari stakeholder terkait, seperti melakukan sidak mingguan, mendata para pedagang dalam memastikan asal usul pangan yang diperjualbelikan," ungkap Fajar Hasan yang juga Ketua Harian Jari Sultra.

    Komisaris Utama PT. Tetap Merah Putih ini pun menegaskan, perlu adanya tindakan tegas bagi para pedagang nakal yang mengambil keuntungan dengan cara tidak benar, serta pentingnya kepemimpinan pengelola pasar yang berintegritas, peduli akan kondisi pasar tradisional yang tidak melulu memikirkan sumbangsih pendapatan semata.

    "Kita bersepakat perlu adanya efek jera dan tindakan tegas untuk pedagang nakal agar kejadian tidak terulang lagi, dan bagi pengelola pasar kiranya tidak memikirkan pemasukan semata mengabaikan kualitas pengelolaan pasar, tetapi kalau pengelolaan yang berkualitas berjalan beriringan pasti akan tercipta pula peningkatan pendapatan pasar, " tuturnya.

    Senada dengan itu sekretaris Ikappi Sultra, Jaswanto, berharap kejadian perdagangan daging haram di pasar tidak terulang mestinya menjadi perhatian semua pihak agar kejadian serupa tidak terjadi khususnya di Sultra.

    Advokat Muda ini juga, menjelaskan, perdagangan daging anjing di pasar tidak dibenarkan secara undang-undang karenanya dibutuhkan edukasi menyeluruh kepada para pedagang.

    "Temuan perdagangan daging anjing di pasar senen Jakarta menjadi atensi kita semua agar kejadian serupa tidak terjadi di daerah kita Sutra," terang dia.

    Dia menjelaskan, harus ada edukasi menyeluruh kepada para pedagang serta peningkatan pengawasan pemerintah daerah terus ditingkatkan, karena aturannya telah jelas di dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang peternakan dan kesehatan hewan, Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nomor 9874/SE/pk.420/F/09/2018, telah ditegaskan bahwa daging anjing tidak termasuk dalam definisi pangan yang dapat dikonsumsi dan larangan diperjualkan belikan secara bebas. (*)


    Penulis | Septiana
































VIDEO