• Tuan Rumah KKN Nusantara, IAIN Kendari Perkuat Moderasi Beragama

image_title
Ket: Acara Pembekalan Mahasiswa Peserta KKN Nusantara di IAIN Kendari.
  • Share

    BUMISULTRA

    KENDARI - Bekerjasama dengan tujuh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara Barat. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari menjadi tuan rumah kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Nusantara bertajuk penguatan moderasi beragama merajut multikulturalisme di Indonesia. KKN Nusantara tersebut dimulai sejak 1 Juli 2021 hingga 14 Agustus 2021.

    Rektor IAIN Kendari, Faizah Binti Awad, mengharapkan, kegiatan KKN Nusantara memberi kontribusi yang positif dalam mewujudkan moderasi beragama di tengah masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra). Dirinya menyambut baik penujukkan IAIN Kendari sebagai tuan rumah.

    “Sebagai perguruan tinggi yang berbasis Islam, kita harus mampu menjadi garda terdepan dalam mewujudkan sikap moderasi beragama dalam mengahadapi kondisi masyarakat Indonesia yang multikultural," ungkapnya.

    Semoga lanjut dia, para peserta mampu menjadi duta moderasi beragama di tengah masyarakat terkhusus pada masyarakat Sultra. Sebelum diberangkatkan menuju lokasi KKN, para mahasiswa dari berbagai kampus tersebut mengikuti pembekalan di auditorium IAIN Kendari pada, 28-30 Juli 2021.

    Peserta KKN berjumlah 80 orang dengan rincian, 18 orang dari UIN Sunan Ampel Surabaya, 5 dari UIN Mataram, 2 orang dari UIN Banjarmasin, 2 orang dari UIN Samarinda, 9 orang dari IAIN Kediri, 2 orang dari IAIN Ponorogo dan 1 orang dari IAIN Kudus dan 41 orang berasal dari IAIN Kendari.

    Seluruh peserta diwajibkan menerapkan protokol kesehatan (Prokes) yang ketat. Mulai dari swab antigen khususnya bagi peserta dari luar Sultra, menggunakan masker, menjaga jarak dan setiap saat mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer yang disediakan panitia.

    Tempat KKN sendiri dipusatkan di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Delapan desa sasaran yang tersebar di enam kecamatan, yakni Desa Cialam Jaya dan Desa Wonua (Kecamatan Konda), Desa Sindang Kasih (Kecamatan Ranomeeto Barat), Desa Morini Jaya (kecamatan Landono), Desa Mulya Sari dan Desa Mowila (Kecamatan Mowila), Desa Lelekaa (Kecamatan Wolasi) dan Desa Lapoa (Kecamatan Tinanggea).

    Pada kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Kendari, Abdul Kadir, mengatakan, IAIN Kendari terpilih sebagai tuan rumah pelaksanaan KKN Kolaborasi Nusantara atas kesepakatan dari seluruh PTKIN di Indonesia pada rapat evaluasi pelaksanaan KKN Nusantara yang digelar di Kota Bandung, Februari 2021 lalu.

    “Alhamdulillah KKN Kolaborasi Nusantara bisa terlaksana ditengah-tengah situasi pandemi Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Semula terdapat lebih 20 perguruan tinggi yang akan berpartisipasi dalam kegiatan ini namun sebagian besar membatalkan keikutsertaannya karena mempertimbangkan kasus Covid-19 yang cenderung naik,” paparnya.

    Kegiatan pembekalan dihadiri oleh sejumlah pejabat lingkup IAIN Kendari antara lain Ketua Senat, Wakil Rektor, Kepala Biro AUAK, Ketua SPI, Ketua Lembaga dan Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Mataram, UIN Antasari Banjarmasin.

    Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat UIN Sunan Ampel Surabaya, Rubaidi selaku salah satu penyelenggara kegiatan ini, menjelaskan, alasan dipilihnya Kabupaten Konsel sebagai obyek pelaksanaan KKN karena berdasarkan data dan fakta yang ada. Bahwa di daerah tersebut dinilai memiliki masyarakat yang sangat heterogen baik pada aspek agama, aliran atau mazhab, etnis, dan budaya. Potret masyarakat yang hidup berdampingan dalam perbedaan dan keragaman itu akan menjadi obyek penelitian para peserta KKN.

    Sebagai bekal untuk mendeskripsikan dan menganalisis karakteristik kehidupan masyarakat, para peserta diberikan pemahaman dan pengetahuan tentang model penelitian Community Based Research. Sebuah model penelitian yang menempatkan komunitas pada posisi yang seimbang dan setara.

    "Komunitas tidak lagi dijadikan sebagai obyek penelitian saja, melainkan juga sebagai subyek atau mitra penelitian. Keterlibatan mereka dalam penelitian sangat intens," tambah jebolan Australian National University ini.
    Metode ini diharapkan dapat melahirkan output KKN yang lebih berkualitas dan dapat menjadi rekomendasi bagi stake holder terutama dalam merumuskan kebijakan yang mencegah adanya gerakan radikal dan intoleransi di tengah keberagaman masyarakat.  (* )  


    Penulis | Septiana






















VIDEO