• LPPM UMK Bantu Wujudkan Desa Eelahaji Sebagai Desa Ekowisata

image_title
Ket: Tim LPPM saat melihat lokasi di Deaa Eelahaji, Buton Utara yang akan dijadikkan desa ekowisata.
  • Share

    BUMISULTRA

    KENDARI - Sebagai perguruan tinggi, kegiatan pengabdian masyarakat tentu menjadi hal wajib begitupun dengan Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK). Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), UMK melakukan pendampingan terhadap nelayan di Desa Eelahaji, Buton Utara sejak 28-30 Juni 2020.
    Kegiatan pendampingan dilakukan melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Ristekdikti.
    Ketua Tim Pengabdian, Dr. Rosmawati, memaparkan, Desa Eelahaji dipilih mengingat desa tersebut memiliki potensi perikanan berlimpah terutama kepiting bakau. Sebagai desa yang kaya potensi perikanan, Elahaji berpeluang untuk dikembangkan menjadi ekowisata.
    “Harapan kami, Desa Eelahaji dapat dijadikan sebagai sentra kepiting bakau mengingat potensi kepiting di daerah ini sangat besar, apalagi karena dukungan wilayah yang berada di kawasan KPHL Peropa’ea Gantara sebagai salah satu kawasan hutan mangrove yang dilindungi,” ujar dosen Program Studi Perikanan ini, Rabu (8/7/2020).
    Tim Pengabdian tersebut dibantu oleh anggota pengabdian yang berasal dari dosen dan mahasiswa yakni Eddy Hamka dan Dosen Fisip, Patta Hindi Asis sebagai anggota tim. Dr. Rosmawati juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatannya sebagai asisten pengabdian masyarakat yakni Pardi dan Irdan.
    Dr. Rosmwati, menambahkan, kegiatan pengabdian ini terdiri dari beberapa tahap yang akan berlangsung selamat tiga tahun. Di tahun pertama, difokuskan pada sosialisasi dan pemasangan demplot kepiting. Tahun kedua fokus kepada pemasaran produk kepiting bakau dan di tahun ketiga diarahkan pada eduwisata: sungai, mangrove dan kepiting bakau.
    Di tahun pertama, sosialisasi mengenai budidaya kepiting bakau di daerah konservasi. Dr. Ros, begitu ia disapa mengatakan, kegiatan sosialisasi penting karena masyarakat mengembangkan kepiting bakau di wilayah konservasi yang dilindungi undang-undang.
    “Kegiatan ini sangat ramah lingkungan, kita tidak perlu menebang, justru dengan adanya hutan bakau akan kita jadikan salah satu daya dukung pelaksanaan program,” ujarnya.
    Selain sosialisasi, masih dia, di tahun pertama akan dibangun Demonstration Plot (Demplot) dengan cara membuat lahan percontohan kepada petani di desa Eelahaji agar masyarakat lebih memahami budidaya kepiting bakau.
     “Kegiatan ini tidak boleh ada kegiatan penebangan pohon apapun bentuknya karena kita menggunakan kawasan KPHL untuk membuat kolam,” paparnya.
    Dr. Ros juga menyebutkan, Demplot akan dibuat di beberapa tempat dan akan dibangun rumah informasi kepiting bakau sebagai media informasi bagi masyarakat yang berkunjung ke desa Eelahaji untuk lebih mengenal kepiting bakau.
    “Nantinya juga akan dibuat rumah informasi kepiting bakau,” pungkas doktor lulusan Universitas Hasanuddin ini. (*)


    Penulis | Septiana






VIDEO