• FPIK UMK Sebut PAAP Jadi Solusi Terbaik Mengelola Perikanaan Skala Kecil

image_title
Ket: Rektor UMK, Amir Mahmud, S.Pi., MP.
  • Share

    BUMISULTRA

    KENDARI - Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) menyelenggarakan Webinar Nasional bertajuk 'Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) Solusi Terbaik Pengelolaan Skala Kecil di Indonesia' bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, FPIK Unhas, RARE Indonesia, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

    Rektor UMK, Amir Mahmud, menjelaskan, FPIK kini memiliki tiga prodi unggulan, dan mengelola SMK Maritim Muhammadiyah yang saat ini telah berjalan dua tahun. Perrlu diketahui pula, berbagai fasilitas-fasilitas sudah dimiliki UMK untuk menunjang praktikum di laboratorium FPIK, yang diperoleh melalui hibah dari Kemendikti. Sejauh ini, FPIK UMK juga sangat akif dengan berbagai kegiatannya baik yang bersifat akademik sesuai keilmuan.

    "Sejak didirikan tahun 2001, FPIK telah turut serta dalam memajukan program pemerintah daerah setempat, hal tersebut terlihat dari peran aktif dan keikutsertaan dalam program PAAP bersama seluruh stakeholder melaui kelompok kerja," ungkapnya, Rabu (17/6/2020).

    Dikesempatan yang sama salah satu narasumber, Hari Kushardanto dari Rare Indonesia mengemukakan, kondisi kritis kawasan perairan Sultra. Termasuk bagaimana RARE mengedukasi mitra serta masyarakat nelayan bergerak bersama merawat sumber daya alam pesisir.

    “Permasalahannya saat ini diidentifikasi tim RARE, nelayan skala kecil yang sebagian besar hidupnya bergantung ke laut secara tidak langsung telah mengeksploitasi sumber daya ikan tanpa perhitungan yang berimbas kepada fenomena overfishing atau penangkapan berlebih,” tuturnya.

    Dia, menambahkan, pihaknya turut mengedukasi dan membuka mata agar lebih bisa melek ruangan, bagaimana cara menabung, menyisihkan asuransi masa depan, dan juga mengkaitkan ekonomi masyarakat dengan perikanan yang diharapkan secara sosial akan lebih tangguh dan memiliki daya lenting tinggi baik secara ekonomi maupun ekologi, ekosistem dan habitat yang ada di daerahnya memilik daya lenting yang cukup baik. (*)


    Penulis | Septiana






VIDEO