• COVID-19 : Si Nano Mungil yang Berbahaya ! Menular dan Mematikan

image_title
Ket: Andi Irdam Hidayat
  • Share

    BUMISULTRA

     

    Saat mendengar kata “Corona”, apa yang akan terlintas di fikiran kita? Tentu saja, secara refleks akan mengarah pada penyakit dan virus. Hal ini disebabkan oleh dampak besar yang ditimbulkan, baik secara langsung maupun tak langsung dengan indikasi sama-sama merugikan manusia.

    Dunia sedang dihebohkan dengan wabah corona saat ini. Seiring berjalannya, waktu arus informasi yang beredar banyak menimbulkan missleading sehingga mempermudah tersebarnya hoax tentang Corona. Beberapa hal dan fakta tentang penyakit ini akan penulis bahas dalam tulisan ini.

    Sebenarnya, ada banyak tipe virus corona yang mampu menginfeksi manusia, termasuk yang dapat menyerang saluran pernapasan manusia. Virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV-2 atau COVID-19) adalah penyakit baru, yang disebabkan oleh virus corona tipe baru dan sebelumnya tidak pernah ditemukan pada manusia. Sejak Desember 2019, telah terdiagnosis peningkatan jumlah kasus novel coronavirus pneumonia (NCP) di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Virus ini merupakan satu keluarga dengan virus penyebab SARS dan MERS.  Dengan penyebaran yang epidemik, kasus-kasus tersebut secara resmi dinamai Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) oleh WHO. COVID-19 menyerang sistem pernafasan manusia menyebabkan infeksi pernafasan. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, ibu hamil, dewasa hingga lansia. Data WHO per 22 Maret 2020 terdapat 266.073 kasus konfirmasi yang tersebar di 179 negara. Sedangkan di Indonesia mencapai 514 kasus, 48 meninggal dan 29 dinyatakan sembuh.

    Menurut WHO, penularan virus corona bisa terjadi melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut ketika batuk atau bersin. Apabila droplet tersebut mengenai benda benda disekitar dan ada orang yang menyentuh benda yang terkontaminasi tersebut kemudian menyentuh mata hidung atau mulut maka orang tersebut sudah terinfeksi virus corona. Bahkan virus ini secara langsung mampu menginfeksi seseorang yang menyebabkan orang tersebut sakit atau tanpa gejala namun dapat menulari orang lain. Gejala klinis yang ditimbulkan antara lain demam, batuk kering, pilek, sakit tenggorokan, lesu dan sesak nafas. Menurut penelitian, masa inkubasi penyakit ini 2 hari sampai 14 hari setelah terpapar. Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan akan muncul secara bertahap. Untuk itu, masyarakat harus waspada bila menderita gejala-geajal tersebut.

    Selain itu, menurut penelitian virus corona ini ternyata sensitif terhadap sinar ultraviolet dan panas, dan secara efektif dapat dinonaktifkan dengan pemanasan pada suhu 56°C selama 30 menit dan pelarut lemak (lipid solvents) seperti eter, etanol 75%, disinfektan yang mengandung klorin, asam peroksiasetat, dan khloroform. Sedangkan penularan virus corona bisa diminimalisir dengan :

    • Sering mencuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal diatas 60%
    • Melakukan social distancing yaitu menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter
    • Tetap berada dirumah dan hindari bepergian ke tempat umum yang ramai pengunjung
    • Tidak bepergian ke daerah yang terpapar virus corona
    • Menggunakan masker saat beraktivitas di tempat umum terutama saat pilek dan batuk
    • Jangan menyentuh mata, mulut dan hidung sebelum mencuci tangan
    • Menghindari kontak dengan orang yang sakit demam, batuk atau pilek
    • Hindari kontak dengan hewan
    • Jangan mengonsumsi daging yang tidak dimasak
    • Rajin berolahrga dan istirahat cukup
    • Dan jika mengalami gangguan kesehatan seperti batuk, pilek, demam dan sesak napas segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

    Saat ini belum tersedia vaksin sehingga pengobatan masih bersifat suportif sesuai dengan gejala yang ada. Beberapa kandidat vaksin dan obat-obatan masih dalam tahap uji klinik dan penelitian lanjutan. Memasuki tahun 2020, terjadi kenaikan kasus yang parah, infeksi COVID-19 dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, gagal ginjal, acute cardiac injury, acute respiratory distress syndrome bahkan kematian mengingat kemampuan virus ini bermutasi sangat cepat. Untuk itu, kasus ini harus ditangani dengan cepat dan tepat agar penyebaran wabah tidak semakin meluas. jika kasus meningkat secara cepat dan fasilitas kesehatan kesehatan tidak mampu untuk menangani jumlah pasien yang semakin banyak maka akan banyak korban meninggal akibat tidak mendapatkan penanganan. Untuk itu, perlunya pencegahan penyebaran virus dengan memutus rantai penularan COVID-19.

    Apa saja yang harus dilakukan mengatasi wabah ini?

    Hal pertama adalah pentingnya sosialisasi berupa pemberian informasi dan edukasi kepada masyarakat terkait Covid-19 yang dapat disampaikan melalui berbagai jenis media sosial secara massive sebagai upaya promotif dan preventif, termasuk travel information terhadap masyarakat yang telah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit. Koordinasi dengan berbagai lintas sektor (Kementerian, aparatur negara, tenaga kesehatan dan kesadaran masyarakat Indonesia) untuk menangani wabah ini adalah kunci utama menghentikan penularannya. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah mengambil beberapa kebijakan sebagai langkah antisipatif meliputi terbitnya surat edaran kesiapsiagaan dan upaya pencegahan penyakit Corona, penyiapan pedoman menghadapi Covid-19 meliputi deteksi, manajemen klinis, pemeriksaan laboratorim dan press release, tersedianya 195 thermal scanner dan logistik, penyiapan 100 RS Rujukan corona, pengadaan test rapid corona, himbauan menghindari keramaian, hingga kebijakan liburnya beberapa sekolah maupun perusahaan swasta baik sektor pariwista, hiburan dll. Hal ini memicu munculnya tagar #diRumahAja, #WorkFromHome, #SocialDistancing, #PHBS dan tagar lain yang bermunculan di media sosial.

    Presiden Jokowi juga mengumunkan menyediakan obat Chloroquin dan Avigan dalam jumlah besar sebagai treatment pasien positif Covid. Lagi-lagi hal ini menimbulkan masalah baru. Masyarakat justru mulai berbondong-bondong mengonsumsi obat-obat ini sebagai bentuk pencegahan. Sebuah persepsi fatal yang justru menimbulkan penyakit baru. Kedua obat ini merupakan golongan obat keras dengam efek samping berbahaya seperti kebutaan, kebocoran jantung dan hanya bisa digunakan sesuai resep dokter dan dibawah pengawasan apoteker. Sejatinya penggunaan ke dua obat tersebut hanya untuk pengobatan semata, bukan untuk mencegah apalagi diperjualbelikan secara bebas.

    Masalah tidak hanya sampai disitu, hal memilukan juga mulai terjadi sehingga menyebabkan chaos di masyarakat yaitu pola perilaku masyarakat semakin impulsif dengan melakukan panic buying, menimbun masker, handsanitizer, hingga kebutuhan sehari-hari. Munculnya oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menaikkan harga-harga kebutuhan menyebabkan harga jual melonjak drastis. Pemerintah pun mulai menindak tegas dan memberikan sanksi  ataas perilaku-perilaku melanggar hukum tersebut. Sekali lagi, virus ini tidak hanya sukses menggorogoti tubuh manusia tetapi sukses menciptakan kekacauan dalam kehidupan masyarakat dunia.

    Sejumlah negara di dunia telah melakukan lockdown seperti Malayasia, Cina, Italia, Iran, Arab Saudi dan negara lainnya. Mereka menutup semua akses lalu lintas antar negara dan mengkarantinakan warganya. Tempat wisata yang dulunya tak pernah sepi pengunjung berubah mendadak layaknya kota hantu tak berpenghuni. Wabah melanda tanpa kenal waktu, layaknya gambaran dalam film “Zombie”, semua terinfeksi dan akhirnya korban berjatuhan tanpa henti. Pertanyaannya, kapankah wabah ini berakhir dan kehidupan kembali normal? Tentu tak ada yang tahu, yang bisa dilakukan saat ini adalah terus berjuang memerangi keganasan virus ini. Pandemik ini merupakan tantangan ilmiah dan sosial yang sangat serius. Semua peneliti dunia kini tengah berupaya mencari vaksin dari virus ini demi menyelamatkan ratusan juta jiwa manusia di dunia ini. Semoga antivirus COVID -19 segera ditemukan dan diproduksi besar-besaran untuk memusnahkan si nano mungil yang berbahaya.

    Lalu bagaimana selanjutnya ?

    Mari bantu edukasi teman-teman, sahabat, keluarga, rekan kerja dan masyarakat sekitar kita  mengenai hal ini.

    So,keep healthy, stay smart and safe...

     

    Penulis : Andi Irdam Hidayat

    Mahasiswa Pascasarjana Prodi Kesehatan Masyarakat

    Universitas Halu Oleo


    Penulis | Redaksi












VIDEO