• Korban Begal di Baubau Jadi Tersangka, Sementara Pelaku Dibebaskan

image_title
Ket: Kapolres Baubau AKBP Zainal Rio Chandra Tangkiri Saat menemui massa aksi
  • Share

    BUMISULTRA

    BAUBAU--Ratusan massa atas nama Aliansi Saliwu Bersatu Masyarakat Lipu Katobengke melakukan aksi demo yang menolak ketidakadilan terhadap dua pelajar SMA Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang melakukan pembelaan diri dari aksi begal, malah dijadikan tersangka oleh Polsek Murhum,  sementara pelaku begal dibebaskan.

    Akibat ketidak adilan ini massa mendatangi Polres Baubau untuk menuntut keadilan terhadap  dua pelajar korban begal yang dijadikan tersangka, yaitu  Azlan (16) dan Rezky (16) pelajar SMA kelas 1  Baubau.

    Menurut keluarga korban, Dion kejadian pembegalan yang dialami kemenakannya terjadi hari Rabu tanggal 1 Januari 2020 depan Anisa Kelurahan Katobengke, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau Azlans dan Rizki dihadang oleh pelaku begal berjumlah 3 (tiga) orang yang tidak diketahui namanya.

    ''Kemudian para pelaku melakukan penganiayaan dan mengambil HP kedua korban, karena mendapat perlakuan yang dilakukan oleh pelaku jambret, kedua korban membela diri dengan memukul pelaku jambret sambil berteriak jambret," ungkapnya saat melakukan aksi di Depan Polres Kota Baubau Kamis (23/01/2020).

    Saat para penjambret melarikan diri lanjut Dion namun salah satu pelaku jambret tidak sempat melarikan diri sehingga diamuk warga, tidak lama kemudian datang anggota kepolisian mengamankan pelaku jambret ke Kantor Polsek Murhum. Dimana pada saat itu juga kedua korban datang ke Kantor Polsek Murhum dengan maksud melaporkan kejadian tersebut, ironisnya tidak ditanggapi oleh pihak kepolisian.

    ''Kami duga pelaku jembret ini dalam keadaan mabuk terlihat saat ia muntah didepan Polsek dan bau alkohol. Dan  pada tanggal 3 Januari 2020 kedua korban pejambretan datang kembali ke kantor Polsek Murhum menanyakan perihal laporannya namun lagi-lagi tidak digubris oleh pihak kepolisian,"  cerita Dion.

    Masih kata Dion tanggal 17  Januari 2020,  keduan korban datang kembali menanyakan laporannya dan diterima oleh pihak kepolisian untuk diperiksa dengan harapan laporannya sebagai korban pejambretan ditindak lanjuti.

    ''Namun yang tejadi justru korban dijadikan sebagai saksi kasus penganiayaan yang dialami oleh pelaku jambret sekaligus ditetapkan statusnya sebagai tersangka dan pelaku jambret malah dibebaskan berkeliaran di Kota Baubau" ucapnya.

    Sementara itu anggota DPRD Kota Baubau, La Madi  geram dengan tindakan yang dilakukan oleh oknum anggota Polsek Murhum.

    ''Ini khan rancu,  saya dua kali ke Polsek tapi tidak digubris. Saya tanyakan BAP-nya katanya tidak ada laporan dan terakhir saya tanyakan sudah dilimpahkan di Lapas. Saya tanya kenapa dilimpahkan ke Lapas, katanya sebagai tersangka. Dari mana kemana sampai dijadikan tersangka, mereka ini korban jambret. Katanya karena mereka memukul, bagaimana tidak memukul saat itu mereka sudah dirampasa hpnya," ujar La Madi dengan nada geram.

    Ia juga meminta agar Komisi Perlindungan Anak bisa mendampingi korban jambret yang dijadikan tersangka karena secara psikologinya anak-anak ini terganggu dalam penjara di Lapas, mereka juga sudah tidak bisa mengikuti proses belajar di sekolah.

    Menanggapi hal itu, Kapolres Baubau, AKBP Zainal Rio Chandra Tangkiri mengaku bertanggungjawab atas penetapan tersangka ke dua pelajar ini.

    ''Saya sangat bertanggungjawab, kami akan lakukan penuntutan hukum seadil-adilnya dan itu jaminan dari saya. Upaya hukum yang dilakukan Polres Baubau dalam hal ini Polsek Murhum itu masih berjalan bukan berhenti disini." kata dia.

    Dikatakan yang sudah dilakukan saat ini itu sesuai dengan laporan yang sudah diterima, kalau ada yang tidak menerima maka laporkan dan dia tindak lanjuti.

    Namun saat dipertanyakan apakah diberikan penangguhan buat Rizky dan Azlan, Kapolres menjelaskan akan ditindak lanjuti sesuai proses.

    "Beri kami waktu, percayakan sama kami, masukan ini tidak akan berhenti disini akan kami tindak lanjuti. Beri kami waktu untuk membuktikan bahwa kami profesional karena ini proses penyelidikan butuh waktu. Kami akan gelar perkaranya" tutupnya.

    Perlu diketahui bahwa korban yang kemudian dijadikan tersangka dan dititipkan di Lapas ini sejak tanggal 18 Januari 2020 sudah tidak mengikuti proses belajar di sekolahnya. (*)


    Penulis | Harianto








VIDEO