• Letkol AF Bantah Todongkan Pistol ke Pimpinan Ponpes Ihya Assunnah

image_title
Ket: Pimpinan Ponpes Ihya Assunah Kolaka Muhammad Sutamin, saat memberikan kronologis kehadiran Letkol AF di pondoknya
  • Share

    BUMISULTRA

    KOLAKA- Letkol AF putra Mardin More membantah pernyataan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Ihya Assunah Kolaka Muhammad Sutamin, sebagaimana yang viral saat ini, kalau dirinya menodongkan pistol kepadanya.

    "Saya ingin mengklarifikasi kejadian di Ponpes, utamanya berkaitan di medsos yang melibatkan saya dan Institusi TNI. Adanya penodongan itu tidak benar, tidak sesuai fakta. Itu hanya gerakan saya menunjuk untuk mengajak ikut ke Pos AL," kata Letkol AF didampingi Mardin More di aula Makopolres Kolaka, jumat (10/1/2020) sore.

    Sebelumnya, pimpinan Ponpes Ihya Assunnah Kolaka Muhammad Sutamin ditemui di Ponpes (10/1/2020) menjelaskan, pada kamis (9/1/2020), usai memimpin musyawarah, santrinya mendatanginya dan memberikan informasi ada tamu yang akan bertemu. Ternyata mereka adalah Mardin More dan putranya dari Angkatan Udara berpangkat Letkol, bersama dua temannya berpangkat Lettu dan Serda.

    "Lalu saya mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam kantor, tapi ternyata langsung ditanggapi dengan marah oleh Letkol AF dan H. Mardin More, serta menodongkan pistol ke kepala saya. Kemudian H. Mardin More mendekati anaknya seraya berkata, “Awas kamu ya ! Sudah lama saya tahan anak saya. Sekarang rasakan ! Mau cari mati? Sekarang saatnya," ungkapnya.

    Selanjutnya H Mardin More menarik dan mendorong paksa dirinya, diikuti todongan pistol dari Letkol AF, diselingi tarikan leher baju dari rekannya supaya masuk kedalam mobil. Begitupun saat handphonenya diserahkan salah seorang santri, handphone tersebut diambil secara paksa.

    Ketika tiba di Pos AL, Sutamin mengaku kembali mendapat ancaman dan penodongan pistol dari Letkol AF, dengan perkataan “Pistol ini jauh- jauh saya bawa dari Surabaya untuk ditembakkan ke kepala kamu". Selain itu terdengar tembakan peringatan.

    "Hal ini semua mereka lakukan sebagai bentuk intimidasi dan pemaksaan kepada saya, untuk menyerahkan sertifikat tanah Pondok Pesantren Ihya’ Assunnah yang dimana tanah tersebut telah dibeli oleh Pondok Pesantren Ihya’ Assunnah dalam hal ini saya dari Drs. H. Mardin More. Dan kasus tanah ini sementara sedang diproses di Mahkamah Agung," ungkapnya.

    Sutamin mengaku karena terus mendapat intimidasi dan ancaman, demi menjaga stabilitas agar kasus ini tidak melibatkan banyak pihak, dengan terpaksa dirinya bersedia menyerahkan surat-surat tanah, meskipun tuntutan agar didampingi 2 saksi dan pengacara tidak diindahkan.

    Usai penandatanganan dan penyerahan surat tanah yang dinilai secara paksa, Sutamin setelah keluar dari Pos AL langsung menuju kantor Polres Kolaka untuk melaporkan kejadian yang menimpanya, sekaligus meminta perlindungan dari pihak Polres Kolaka.

    Terhadap pernyataan Pimpinan Ponpes Ihya Assunah tersebut, Letkol AF didampingi Mardin More membantah hal itu dan menilai tidak sesuai fakta. Dirinya mengaku tidak pernah menodongkan pistol ke kepala Sutamin. Bahkan dia hanya memegang pistol karena longgar dan mengamankan, jangan sampai jatuh dari sarungnya saat masih di Ponpes.

    "Itu bukan pistol benaran, tapi sopgan," kilahnya.

    Letkol AF juga membantah kalau ada suara tembakan peringatan, sebab setelah dilakukan penyelidikan, ternyata itu suara petasan anak kecil yang bermain di dekat Pos AL. Ini juga dibenarkan Danpos AL Kolaka, sebab pistol yang dicurigai milik Sutejo, peluruhnya masih utuh dan itu bisa dicek kebenarannya.

    Meski demikian, Letkol AF membenarkan kalau dirinya sempat mengeluarkan kalimat "Pistol ini jauh- jauh saya bawa dari Surabaya untuk ditembakkan ke kepala kamu" kepada Sutamin, tapi diakui itu hanya sekedar gertakan, sebab tidak mungkin dirinya menembak, sebab pistol yang dipegangnya adalah sopgan.

    Dirinya mengaku tujuan ke Ponpes Ihya Assunah bersama Ayahnya dan dua rekannya untuk melihat lokasi Ayahnya. Namun karena saat mereka melihat-lihat lokasi ada santri yang mengambil gambar mereka. Ketika ditanya, dijawab diperintahkan Pimpinan Ponpes, sehingga meminta santri tersebut menghapus gambar yang diambil, sekaligus memanggil Sutamin untuk bertemu dengan mereka.

    Karena dinilai terjadi saling argumentasi atas Sutamin dan Mardin More, mereka kemudian membawa Sutamin ditempat aman, yakni di Pos AL untuk membicarakan masalah mereka, tanpa menganggu santri, tapi justru ditanggapi lain oleh masyarakat.

    Letkol AF mengaku sangat dirugikan dengan vitalnya berita tersebut yang dinilai tidak sesuai fakta, sebab tujuannya kesana untuk mendamaikan, justru mendapat berita yang merusak citra diri dan institusinya.

    "Saya akan melaporkan pencemaran nama baik, baik secara pribadi maupun institusi pada orang yang pertama memviralkan berita ini," kata Letkol AF.

    Begitupun Mardin More mengaku kalau dirinya tidak mengambil paksa sertifikat dari tangan Sutamin, tapi mengambil haknya yang sudah lama diminta dan ditahan oleh Sutamin. (*)

     


    Penulis | Armin Arsyad






VIDEO