• Tim Dosen Teknik Elektro UHO Sosialisasikan Keselamatan dan Konservasi Energi

image_title
Ket: Tim dosen UHO yang melakukan kegiatan pengabdian masyarakat
  • Share

    BUMISULTRA

    KENDARI--Tenaga listrik tidak hanya bermanfaat tapi juga memiliki potensi bahaya bagi masyarakat dan lingkungan hidup. Pasal 44 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2009 mengamanatkan bahwa setiap kegiatan usaha ketenagalistrikan wajib memenuhi ketentuan keselamatan ketenagalistrikan untuk mewujudkan kondis diantarnya Andal dan aman bagi instalasi, aAman dari bahaya bagi manusia dan makhluk hidup lainnya serta ramah lingkungan.

    Oleh karena tim dosen dari Universitas Halu Oleo (UHO) mengadakan lokakarya dan Focus Group discussion (FGD) yang berlokasi di Ruang Pertemuan PT. PPILN Area Kendari baru-baru ini, Senin (25/11/2019).

    Menurut Ketua Tim, Hasmina Tari Mokui ST, ME, PHD bahwa untuk mewujudkan keselamatan ketenagalistrikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, penyedia listrik, konsumen serta stakeholder lainnya. Untuk itu, tim dosen Universitas Halu Oleo (UHO) yang terdiri Ir. Mustamin, MT, Tachrir, ST, MT serta Yuni Aryani Koedoes, ST, MT melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat.

    Kegiatan ini didanai oleh BLU UHO melalui skema Program Kemitraan Masyarakat Internal UHO (PKMI-UHO) dengan judul “PKM Tenaga Teknis Ketenagalistrikan Di Kota Kendari tentang Keselamatan Dan Konservasi Energi Listrik Pada  Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (IPTL) Tegangan Rendah.

    ''Dimana mitra pada kegiatan PKMI-UHO ini adalah tenaga teknis ketenagalistrikan (TTK) pada PT. PPILN Area Kendari dan PT. KONSUIL Sulawesi Tenggara. Kedua Perusahaan ini adalah Lembaga Inspeksi Teknik (LIT) yang diberi kewenangan oleh Kementerian ESDM untuk memeriksa kelaikan operasi instalasi listrik tegangan rendah (220 volt atau 380 volt) danmenerbitkan Sertifikat Laik Operasi (SLO),'' katanya dalam pree releasenya pada Bumisultra, Minggu (1/12/2019).

    Pada kegiatan lokakarya dipaparkan peraturan terbaru terkait sertifikasi Kompetensi Tenaga Teknis Ketenagalistrikan serta Keselamatan dan Konservasi Energi Listrik pada IPTL. Pada sesi FGD, topik yang didiskusikan diantaranya menyangkut sertifikat kompetensi yang dimiliki mitra dan perpanjangannya serta permasalahan yang dihadapi oleh TTK pada saat melakukan inspeksi jaringan IPTL dan solusinya. 

    ''Beberapa permasalahan yang sering dihadapi oleh TTK di lapangan diantaranya adalah instalasi tidak sesuai Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL), pemasangan instalasi dilakukan oleh pihak yang belum bersertifikat ataupun bukan naungan asosiasi/badan usaha ketenagalistrikan, penggunaan kabel yang tidak sesuai standar/SNI,serta sistem pembumian pada IPTL yang tidak ada/tidak memenuhi PUIL. Topik yang juga menjadi fokus adalah banyak ditemukannya kasus kerusakan kWhmeter dan solusi terhadap permasalahan ini,'' urainya.

    Selain itu lanjutnya ketentuan teknis dan standarisasi instalasi pemanfaatan tenaga listrik harus memenuhi ketentuan UU 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan dan peraturan di bawahnya, untuk mewujudkan instalasi listrik yang aman, andal, dan ramah lingkungan. Sistem instalasi pembumian TT, TN, dan IT memegang peranan sangat penting dalam mengamankan dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Tidak ada proteksi tanpa sistem pembumian  “no safe electricity without grounding”.

    ''Selain persoalan safety, ternyata penggunaan sistem pembumian yang tidak standar berimplikasi terhadap kerugian material kepada perusahaan penyedia tenaga listrik (PLN) dan masyarakat konsumen (IPTL) dimana sekitar 500.000 unit kWh meter prabayar berbagai merek rusak sejak tahun 2008  s.d 2019 yang terbukti disebabkan oleh sistem pembumian yang tidak berfungsi baik. Kondisi ini terjadi apabila tegangan suplai pada IPTL tidak standar pada kWh meter digital yang menggunakan rangkaian Op Amp yang membutuhkan tegangan reference (Vref=0) terhadap tegangan phase. Tegangan (Vref =0) hanya dapat terjadi jika kWh meter netralnya di grounding,'' jelas Hasmina.

    Selama ini katanya lagi menjelaskan bahwa instalasi pembumian pada IPTL tidak dapat difungsikan dengan baik sebagai sarana proteksi/pelindung terhadap keselamatan masyarakat karena ada persoalan pemasangan konstruksi APP pada kawal penghubung antara APP dengan PHB. Sehingga sosialisasi terhadap semua stakeholder terutama teknisi listrik menjadi sangat urgen.

    ''Solusi yang ditawarkan adalah kawat penghantar  dari APP ke PHB harus menggunakan penghantar yang terdiri dari kawat phase, netral, dan grounding. Kawat netral hanya dapat dihubungkan ke kawat grounding setelah sensor arus I2 pada APP mendeteksi arus balik pada penghantar netral. Hal ini sangat menguntungkan karena kWh meter dapat membaca pemakaian energi dengan baik, kWh meter tidak lagi mendeteksi arus induksi yang merugikan konsumen, dan hak konsumen untuk mendapatkan pelayanan listrik yang baik dapat terpenuhi dengan baik dan aman,'' paparnya.

    Dengan adanya kegiatan pengabdian masyarakat ini katanya  para TTK merasa sangat terbantu dalam peningkatan pemahaman akan keselamatan IPTL terutama mengenai sistem pembumian. Para TTK berjanji akan meneruskan pengetahuan dan keterampilan ini kepada masyarakat agar mereka sadar berinvestasi untuk memperbaiki instalasi grounding miliknya dalam meningkatkan safety terhadap instalasinya sebagai proteksi terhadap arus bocor (GPAL), arus sisa  (GPAS), dan arus induksi dari tanah. (*)


    Penulis | Redaksi








VIDEO