• Penerapan Alat Pengasapan Ikan Type Mobile Portable di Muna

image_title
Ket: Pelaksanaan Uji Coba dan Pelatihan Penggunaan Alat Pengasapan Ikan Type Mobile Portable di desa Lupia Kecamatan Kabangka
  • Share

    BUMISULTRA

    KENDARI--Ikan asap merupakan salah satu produk olahan hasil perikanan yang banyak disukai oleh masyarakat di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) khususnya di Kecamatan Kabangka kabupaten Muna, karena memiliki aroma yang spesifik keasapan dan rasa gurih pada dagingnya.

    Salah satu sentra produksi ikan asap di Kabupaten Muna adalah Kecamatan Kabangka Kecamatan Marobo dan Kecamatan Napabalano.  Jenis ikan yang diolah menjadi ikan asap antara lain ikan momar, cakalang, tuna, gurami dan jenis lainnya.

    Menurut Dosen Penanggunjawab kegiatan ini, Lawelendo ST.,MT bahwa metode pengolahannya masih bersifat tradisional dengan menggunakan peralatan pengasapan berbentuk para-para dari batang kayu atau besi beton. Bahan bakar yang digunakan berupa kayu, tempurung dan sabut kelapa.

    Gambar: Alat Pengasapan Ikan Type Mobile Portable

    ''Cara pengasapan yang demikian dikenal dengan sebutan pengasapan tradisional atau pengasapan panas secara terbuka yang mempunyai beberapa kelemahan antara lain : panas yang diterima produk/ikan tidak merata, tingkat kematangan produk tidak merata,dibutuhkan bahan bakar yang cukup banyak, hasil produksinya sering hangus karena nyala bara api dari bahan bakar akibat hembusan angin dan waktu pengasapannya cukup lama yaitu 4-5 jam,'' urainya pada Bumisultra.com, Jumat (9/10/2019)

    Selain itu katanya dengan maksud menerapkan inovasi IPTEK para dosen Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo (UHO) HO melakukan kegiatan melalui Pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen-dosen Fakultas Teknik UHO dengan dana pelaksanaannya bersumber dari dana DIPA Kemenristek Dikti tahun 2019.

    ''Dimana kegiatan ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan mutu ikan asap berbagai jenis yang dihasilkan dan menerapkan alat pengasapan tipe Mobile Portable yang lebih efektif dan efisien. Tujuan khusus dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pengolah ikan asap dan masyarakat tentang dasar-dasar pengasapan ikan, pembuatan dan penerapan alat pengasapan tertutup untuk pengasapan ikan yang lebih higienis,'' paparnya.

    Dikatakan berdasarkan hasil uji coba alat pengasapan yang di aplikasikan di desa Lupia kecamatan Kabangka, diketahui bahwa kapasitas produksi alat pengasapan adalah 30-40 ekor ikan cakalang/tuna ukuran panjang 30-35 cm/ekor. Waktu yang dibutuhkan untuk 1 kali produksi sekitar 1,5-2 jam. Dengan demikian, frekuensi produksi setiap hari dapat dilakukan sebanyak 3-4 kali.

    Hasil monitoring dan evaluasi memperlihatkan bahwa alat pengasapan ikan tipe Mobile Portable yang diterapkan dalam kegiatan pengabdian ini sudah bisa digunakan oleh para pengolah dan masyarakat di desa Lupia kecamatan Kabangka.

    ''Diharapkan kegiatan pengabdian ini tidak berakhir sampai disini, namun ke depannya  perlu  dilakukan  pengembangan  agar Kecamatan  Kabangka  dapat dijadikan  sentra  produksi  ikan  asap  yang  higienis  dan  memenuhi  standar kesehatan,'' pungkasnya. (*)

     


    Penulis | Asfar








VIDEO