• Pengeringan Gabah Menggunakan Kompor Gasifikasi Sekam Padi

image_title
Ket: Ketua tim, Dr. Eng, Lukas Kano Mangalla bersama anggota tim dan masyarakat di Desa Pambulaa Jaya.
  • Share

    BUMISULTRA

    KENDARI--Program pengabdian kepada masyarakat di Desa Pambulaa Jaya Kecamata Konda, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra)  mengusung tema “System Pengeringan Gabah Menggunakan Kompor Gasifikasi Sekam Padi”. Kegiatan Pengabdian ini dilakukan oleh Tim Dosen dari Universitas Halu Oleo (UHO) bersama masyarakat dan aparat Desa Pambulaa Jaya baru-baru ini.

    Menurut Ketua Tim  Dr. Eng.  Lukas Kano Mangalla bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi permasalahan para petani dalam mengeringkan hasil panenan terutama pada musim hujan. Selain itu kegiatan ini pula diharapkan dapat memberikan dampak positive bagi peningkatan pendapatan para petani.

    Dikatakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini lakukan oleh tiga dosen dari Fakultas Teknik yaitu Dr. Eng. Lukas Kano Mangalla, ST., MT (Jurusan Teknik Mesin), Luther Pagiling, ST., MT (Jurusan Elektro) dan Budiman Sudia, ST., MT (Jurusan Teknik Mesin).

    ''Upaya pendekatan dalam penyelesaian permasalah pengeringan ini dimulai dengan sebuah ide baru yakni bagaimana memanfaatkan limbah buangan penggilingan padi menjadi sumber panas untuk pengeringan gabah.  Limbah buangan penggilingan berupa sekam padi yang biasanya hanya dibakar habis. Padahal masyarakat dapat memanfaatkan limbah ini dengan membakarnya dalam suatu ruang,'' ujarnya.

    Selain itu katanya pembakaran khusus yang diberi nama “kompor gasifikasi”. Pembakaran kompor ini sangat unik karena dapat menghasilkan nyala api yang cukup bagus dengan sedikit asap dan tidak membutuhkan kipas atau blower udara. Gas panas yang dihasilkan oleh pembakaran ini kemudian dialirkan melalui suatu plenum (saluran pembagi) ke dalam rak pengeringan untuk pengeringan gabah.

    ''System pengeringan yang dibuat juga sangat cepat dan mudah dioperasikan. Aliran udara panas di dalam ruang pengering menggunakan aliran silang melewati tumpukan gabah sehingga pengeringan menjadi cepat dan tidak perlu dibalik selama proses pengeringan,'' kata Lukas Kano.

    Lebih lanjut katanya ada beberapa manfaat pengeringan yang didesain ini diantaranya dapat mengurangi tumpukan limbah sekam, proses pengeringan menjadi lebih cepat dan dapat dilakukan kapan saja, serta hasil pengeringan tidak kotor dan dapat digunakan untuk kebutuhan di masyarakat baik perorangan maupun kelompok tani.

    ''Dimana dari proses pembakaran sekam ini tersisa abu sekam yang cukup halus untuk dimanfaatkan sebagai abu gosok pencuci piring, sebagai pupuk untuk tanaman dan lain sebagainya. Sehingga secara ekonomis pemanfaatan limbah ini melalui pembakaran di kompor gasifikasi dapat memberikan nilai tambah bagi pendapatan masyarakat petani,'' paparnya menjelaskan.

    Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi dan simulasi/demontrasi peralatan pengering yang diusung dalam program tersebut. Kegiatan sosialisasi dilakukan di balai Desa Pambulaa Jaya dengan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat termasuk aparat desa setempat.

    Sosialisasi ini dipandu oleh ketua Tim bersama kepala desa. Diskusi berlangsung dalam suasana santai sambil bertukar pengalaman dan pengetahuan sehubungan dengan pengeringan pada musim hujan. 

    Salah satu anggota menambahkan, Budiman Sudia, ST., MT menjelaskan secara detail teknik pengeringan dan sumber senergi alternative untuk dapat digunakan sebagai bahan pengering.

    Sementara ketua pelaksana menjelaskan proses pembakaran biomassa ini dapat menghasilkan panas yang optimal untuk digunakan sebagai pengeringan pasca panen, termasuk pengeringan produk olahan rumah tangga dan ikan kering.

    “Dari kegiatan seperti ini diharapkan agar masyarakat dapat memanfaatkan secara baik sumber sumber energy yang ada di sekitar kita termasuk limbah buangan sekam padi” kata Lukas.  (**)

     


    Penulis | Asfar












VIDEO