• Program Penanaman Jagung di Koltim, Manfaatnya Dirasakan Petani dan UKM

image_title
Ket: Kadis pertanian Laski Paemba saat panen jagung di Kecamatan Tinondo
  • Share

    BUMISULTRA

    KOLAKA TIMUR - Bupati Kolaka Timur (Koltim) terus menggenjot kemajuan pertanian dan khususnya Perkebunan sehingga Koltim bisa menjadi lumbung pangan terbesar di Sulawesi - Tenggara (Sultra).

    Sekalipun Koltim baru memasuki tujuh tahun mekar, bukan suatu persolan bagi Tony Herbiansyah memacu pertumbuhan ekonomi rakyat melalui sektor perkebunan.

    ''Seperti halnya komoditi jagung sejak bergulirnya program dari Kementrian Pertanian (Kementan) saat ini ada beberapa Kecamatan sudah mulai panen jagung dan sebagian terus melakukan penanaman khususnya di wilayah Lambandia, Aere, Dangia dan beberapa Kecamatan lainya'' ujar Kadis Pertanian Koltim Laski Paemba kepada Bumi Sultra, Kamis (10/01/2019).

    Dirinya menjelaskan untuk Desa Ambapa para petani sudah mulai melakukan panen jagung dengan jenis bibit (BISI 2) sekitar 70 ha, Desa Singgere sekitar 43 ha dengan rata - rata hasil panen per hektar 4 hingga 5 ton semuanya di wilayah Kecamatan Tinindo.

    "Saat ini, harga di petani mencapai 3500 per kilo, sementara harga yang di tetapkan pemerintah dalam hal ini Kementan 3.150 per kilo, artinya harga jagung sudah sesuai", cetusnya.

    Dia menambahkan, "untuk pemasaranya masih di sekitar wilayah Koltim, dan saat ini kita masih melakukan usaha kepada pabrikan pakan ternak dari jawa", terangnya.

    Laski kembali melanjutkan, " sebenarnya hasil panen jagung petani bisa melebihi 5 ton, tapi kemarau tahun lalu berimbas pada hasil panen, yang kami harapkan tahun ini di beberapa tempat sudah mulai menanam jagung BISI 2 bisa mencapai di atas 5 ton per hektarnya", kata Laski.

    Salah seorang Petani penggarap lahan jagung Sinrang nerharap agar  tahun ini bisa bagus panen apalagi sudah mulai musim penghujan, selain itu harga jagung saat ini sudah bagus tidak rendah lagi, inilah yang membuat warga dan kelompok tani semangat menanam jagung.

    ''Bahkan  sebagian petani yang memanen hasil jagung sekalipun tidak luas namun bisa bernapas legah karna harga jagung membaik dibanding tahun sebelumnya, '' katanya.

    Hal senada pun diungkapkan salah seorang penjual pakan ternak asal Welala bahwa saat ini harga jagung sudah normal dibandingkan tahun sebelumnya, selaku penjual eceran khan bisa dapat untung sedikit, sekalipun harga ada kenaikan namun para konsumen banyak yang membeli khususnya para peternak.

    ''Mereka lebih banyak menggunakan jagung untuk di campur kosentrat, justru makanan dari jagung lebih memperkuat daya tahan tubuh ternak, sehingga banyak yang membeli, '' pungkasnya. (*)


    Penulis | Irwandar