• Toko Raya Motor Dituntut Mantan Karyawan

image_title
Ket: Hearing Toko Raya Motor di DPRD Kendari, Kamis (10/1/2019).
  • Share

    BUMISULTRA

    KENDARI - Setelah selama 19 tahun bekerja di Toko Raya Motor, rupanya La Saidi tidak pernah menerima gaji sesuai Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Bahkan setelah mengundurkan diri karena memasuki usia pensiun yakni 60 tahun, dirinya tidak menerima pesangon dari pihak toko. Karena itu, ia mengajukan permasalahan tersebut ke DPRD Kendari dengan harapan bisa mendapat solusi atas masalah yang dikeluhkannya.

    “Sejak bekerja gaji yang diterima ialah dari Rp 1 juta hingga terakhir saat mengajukan pengunduran diri yakni Rp 1,6. Saya mengajukan pengunduran diri karena tidak mampu lagi bekerja mengingat usia sudah masuk 60 tahun,” katanya saat mengikuti dengar pendapat (hearing) di DPRD Kendari, Kamis (10/1/2019).

    Dia menambahkan, adapun berkaitan dengan BPJS Ketenagakerjaan atau BPJS Kesehatan itu tidak ditanggung oleh pihak toko. Berkaitan dengan aduannya ke DPRD Kendari ini dengan maksud agar pihak Toko Raya Motor membayar kekurangan gajinya selama bekerja. Karena selama ini gaji yang diterima tidak sesuai ketentuan yang ada. Adapun pesangon ia mengatakan, tidak mempermasalahkan. La Saidi yang merupakan warga gunung jati ini bekerja sebagai sopir di toko Raya Motor.

    Perusahaan Raya Motor sendiri bukanlah CV, UD atau perusahaan melainkan toko. Seperti yang diungkapkan Tandi Watulingas selaku pimpinan. Toko tersebut bergerak di bidang perdagangan barang, yakni menjual spare part motor

    Tandi, menjelaskan, bahwa saudara La Saidi berhenti bekerja karena mengundurkan diri. Berkaitan gaji atau upah yang diberikan diakui bukan dalam bentuk MoU. Kesepakatan untuk bekerja dilakukan secara lisan dan kerja pun tidak dipaksa.

    “Terhadap perjanjian penggajian memang dilakukan secara lisan dengan kesepakatan Rp 1,6 juta per bulan dan diberikan upah harian Rp 25 ribu, kecuali hari minggu. Artinya jika ditotalkan dalam sebulan bisa mencapai UMK,” katanya.

    Dirinya menambahkan, bahwa selama bekerja karyawan tidak pernah mengajukan komplain. Terkait tuntutan yang diajukan oleh mantan karyawannya, dia masih mempertimbangkan hal tersebut disamping melihat kemampuan yang dimiliki. Sebelumnya, saat bekerja pihak toko telah memberi satu unit sepeda motor dengan tujuan mempermudah transportasi La Saidi. Gaji yang diberi suda naik yang sebelumnya Rp 1,4 jadi Rp 1,6. Sementara upah harian itu karena melihat kondisi dari para karyawan artinya Tandi melihat sisi kemanusiannya.

    “Saya sendiri berinisiatif akan memberi uang tunai Rp 3 juta sebagai pesangon tetapi jumlah itu belum pasti. Bisa saja angka itu berubah karena saat ini masih dalam tahap sosialisasi. Sementara utang atau kasbon dari pak La Saidi sudah tidak kita hitung,” terangnya.

    Ketua Komisi I Sitti Nurhan Rachman didampingi La Ode Ashar, menuturkan, kondisi ini diharap bisa menjadi pelajaran kedepan. Pihaknya meminta agar para pekerja itu dapat didaftarkan ke BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

    “Untuk itu marilah kita berpikir arif untuk memperbaiki lagi pengelolaan manajemen apalagi jika itu sebuah perusahaan atau pun toko. Kedepan perlu diperhatikan agar kesepakatan yang dilakukan antara pihak perusahaan dengan karyawan dilakukan secara tertulis bukan lisan seperti sebelumnya. Lisan itu sah saja dan aman jika tidak ada masalah,” terangnya.

    Berdasarkan hearing hari ini, kata Nurhan, memberikan waktu satu minggu kepada pihak Raya Motor untuk mengkomunikasikan lagi terkait tuntutan mantan karyawannya sehingga mencapai kata sepakat. Diharapkan apapun keputusannya kedepan, bisa diterima semua pihak tanpa memberatkan salah satunya.


    Penulis | Septiana