• Warga Marombo Pantai Tuding Perusahaan Tambang tidak Mensejahterakan

image_title
Ket: Cing polong (45) di di rumah kediamannya
  • Share

    BUMISULTRA

    KONUT---Dengan hadirnya beberapa perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan nikel di Desa Morombo Pantai Kecamatan Lasolo Kabupaten Konawe Utara (Konut) warga setempat menganggap tak memberikan kesejahteraan malah mengurangi pendapatan warga nelayan.

    Cing Polong (45) mengungkapkan kepada media ini, jika pendapatannya sebelum masuk perusahaan bidang pertambangan untuk produksi di daerah mereka sangat menurun penghasilannya, dia mengakui sebelum adanya kegiatan penambangan dirinya mampu menghasilkan hingga Rp 3  juta sampai Rp 6 juta perbulannya.

    Usahanya nelayan yakni mencari teripang yang berada disela-sela batu karang. Hingga kini dengan hadirnya perusahaan tambang tersebut tampak jelas batu karang tempat biasa mereka mencari teripang kini sudah terbaluti lumpur yang sangat dalam.

    "Selama datang perusahaan kami disini itu tidak ada peningkatan. Seperti bantuan-bantuan dari perusahaan tidak ada sama sekali. Sekarang bagian batu sudah penuh lumpur kita mau cari teripang saja sudah susah." ujar Cing polong saat di temui dirumah kediamannya.

    Dalam kesehariannya dirinya sering menggunakan alat tangkap pukat untuk menangkap ikan, namun hasil yang ia peroleh hanya tempelan lumpur yang berwarna merah dipukatnya tanpa menghasilkan apa-apa. Meski hal itu sering dia lakukan untuk mencari nafkah buat keluarganya.

    "Penghasilannya sekarang itu jelas beda sekali, kalau dulu itu masih jernih airnya kalau sekarang sudah kabur air. Pukat saja kalau dipasang belum cukup setengah jam sudah merah pukat. Apalagi Sekarang sudah semakin jauh kalau mau cari ikan butuh waktu 3 jam. Dibagian sini itu lumpurnya sudah sampai selutut" ucapnya

    Dia menilai jika khadiran perusahaan tambang nikel itu, hanya memberikan kompensasi yang sering mereka sebut uang debu, yang konon katanya uang pengganti debu. Cing polong juga mengakui mendapatkan uang debu Rp. 1 juta perbulannya yang dianggapnya sangat jauh dari pendapatan sebelum para pengusaha tambang hadir di daerah mereka. "Terus terang saja kami tidak tahu itu uang debu, disinikah atau disana" keluh Saenab . (*)


    Penulis | Suhardiman Sawali