• Jendral Supomo : Andai Kain Tenun Sultra Seperti Kain Tenun Ikat di Kupang

image_title
Ket: Mayjen Supomo saat di Kupang
  • Share

    BUMISULTRA

     Jendral Supmo  : Andai Kain Tenun Sultra Seperti Kain Tenun Ikat di Kupang

    KENDARI—Siapa tak kenal Mayjen (Purn)  H Supomo, Sip, Msc calon anggota DPD RI yang juga putra daerah yang kembali ke Sultra ingin memajukan Sultra dengan ilmu yang dimilikinya selama mengemban tugas di luar Sultra dan luar negeri.

    Kali ini pak JS panggilan akrban Jendral Supomo akan bercerita tentang perjalangannya ke Kupang Berikut petikan perjalanan pak JS yang dirangkum dalam sebuah tulisan oleh Sherli dari  Bumisultra.

    Kata orang, kalau berkunjung ke Kupang jangan lupa membeli  kain tenun ikat. Kain tenun ikat khas Kupang,  sudah terkenal  didalam maupun luar negeri. Saya (JS, red) pun penasaran dengan apa yang menjadikan tenun ikat itu terkenal.  Kali, ini Saya pun berkesempatan untuk berkunjung langsung ke kota Kupang, Provinsi  Nusa Tenggara Timur (NTT).  ( Kupang, 12 September 2018).

    Siang itu, cuaca di kota Kupang cukup terik. Namun, tidak menghalangi langkah Saya untuk berburu  kain tenun ikat sebagai cendera mata khas dari kota Kupang.  Saya  memasuki sebuah toko  yang menjual berbagai jenis kain tenun ikat.

    Beraneka hasil  kain tenun ikat khas NTT di jual di toko tersebut. Kain  ikat yang berukuran besar dapat digunakan untuk baju. Selain produk kain utuh,  tenun ikat juga dapat dikreasikan menjadi selendang, sarung, dasi, dompet, tas dan rok.

    Motif kain tenun ikat bervariatif. Ternyata, masing- masing daerah penghasil kain tenun ikat memiliki motif dan warna dan berbeda. Tenun ikat Timor umumnya berwarna cerah dengan benang-benang berwarna terang. Jenis tenun ikat dari Rote dan Ende memiliki warna dasar hampir sama, yakni hitam atau putih. 

    Tenun ikat Sumba banyak menonjolkan motif orang, pohon besar, dan hewan sejenis kijang.  Sedangkan tenun ikat Sawu pilihan warna yang digunakan lebih kaya namun tetap mayoritas warna adalah warna tua.

    Untuk harga kain tenun cukup bervariatif,  berkisar antara Rp. 250.000–Rp.600.000. Outlet tersebut  menampung berbagai hasil kain tenun dari pengrajin yang ada di daerah  Rote, Ende, Sabu, Timor, dan terbanyak dari Sumba. Uniknya, pengerjaan kain tenun ikat tetap  dilakukan di daerah penghasil.

    “Kami selaku pemilik outlet bekerja sama dengan para pengrajin kain tenun ikat yang ada di berbagai daerah  di sini. Kami mengirim benang dan jasa. Kemudian,  dikerjakan pengrajin  yang ada di pulau-pulau,” kata pemilik toko kepada Saya.

    Kegiatan tersebut memberi pekerjaan kepada penduduk untuk menghidupkan ekonomi kreatif sekaligus pariwisata. Dinas Pariwisata ikut andil untuk mensosialisasikan via tour guide untuk memasarkan produk, kerjasama dnegan SMK Kejuruan untuk pemberdayaan sekolah dalam menghidupkan triple helix (pemerintah-swasa- sekolah/ pendidikan).

     Sebenarnya,  Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra)  memiliki berbagi  jenis kerajinan tenun, seperti tenun khas Tolaki, Buton, Muna, dan sebagainya.  Kualitas hasil tenun dan motifnya pun tidak kalah dengan kain tenun ikat khas Kupang. 

    Inilah, pekerjaan rumah kita, sebagai pemerintah, swasta, dan pihak-pihak lain yang peduli  dengan  keberadaan tenun khas Sultra. Untuk lebih memperkenalkan  salah satu bentuk budaya Sultra ke tataran nasional hingga internasional.   (**)


    Penulis | Sherli



Fokus