• Bangunan Pabrik Kakao Terbesar di Sultra Rampung,500 Tenaga Kerja Bakal Terserap

image_title
Ket: Bangunan pabrik kakao di desa Ponggiha yang telah selesai
  • Share

    BUMISULTRA

    KOLUT - Bukti keseriusan Bupati  Kolaka Utara, Drs H Nur Rahman Umar, MH dan Wakilnya H. Abbas, SE. dalam mendongkrak ekonomi kerakyatan lewat komoditas kakao adalah upaya pengembangan kakao dari hulu ke hilir. Dimana, Hulu berarti mulai dari penanaman bibit kakao, hingga ke Hilir adalah proses pengolahan biji kakao menjadi kemasan coklat.

    Saat ini, pembangunan pabrik kakao di dusun balosi Desa Ponggiha Kecamatan Lasusua telah dituntaskan di akhir tahun 2020 lalu. dan, Kelak pabrik inilah yang akan menjadi hilir untuk keberhasilan  program revitalisasi kakao yang dicanangkan pemerintah kabupaten Kolaka Utara Tahun 2018 lalu.

    Kepala Dinas (Kadis) Perkebunan dan Peternakan Kolaka Utara, Ismail Mustafa,ST. mengungkapkan bahwa, Rampungnya pembangunan pabrik kakao secara keseluruhan, baik pembangunan Permentasi, pengering kakao termasuk gedung pusat pembibitan advokasi dan gedung pusat pelatihan dan pengembangan kakao tersebut, akan di manfaatkan tahun 2021 ini.  

    "Januari-Maret tahap persiapan Sumber Daya Manusianya, pembelian biji kakao basah dari petani melalui koperasi, insya Allah, memasuki bulan April - Juni 2021 pabrik memproduksi biji kakao di kawasan Major Project Kakao sudah mulai beroperasi," kata Ismail Mustafa. 

    Dikatakannya, bila pabrik dan biji kakao sudah siap, dipastikan penyerapan tenaga kerja juga dilakukan, karena tempat pengolahan itu tidak berdiri sendiri. Karena,  gedung pengolahan biji kakao, ada bagian khusus permentasi dan khusus pengeringan kakao, dari ketiga gedung tersebut, bakal menyerap tenaga kerja 25 hingga 40 orang yang sudah terlatih dibidangnya masing - masing, belum termasuk para tenaga pengurus koperasi di tiga zona mulai dari tingkat wilayah kabupaten hingga para pembeli yang tersebar hingga ketingkat desa.

    "Pembelian biji kakao ke petani oleh koperasi dibagi tiga zona yang meliputi zona wilayah utara, tengah dan zona  selatan, perkiraan 500 orang tenaga kerja akan terserap secara keseluruhan,"ungkapnya. 

    Ia juga menambahkan, untuk mendorong hasil penjualan, sasaran awal yang menjadi target pangsa pasar yakni dalam wilayah Kolut, Pihaknya akan menyasar semua unit-unit pemerintahan baik OPD hingga ke tingkat desa. dalam hitungan estimasi pendapatan pada awal penjualan itu lancar, pihaknya bakal meraup hasil pembelian  berkisar Rp 1 Milliar, Itu belum diluar lembaga atau unit pemerintahan karena saat ini, pemda telah megalakkan ‘gerakan minum coklat’ yang digaungkan pemda. 

    "Kami akan perlihatkan bahwa ini, produk hasil dari petani kita. Ayo dukung gerakan minum coklat untuk membantu para petani dengan mengkonsumsi produk lokal sendiri," Tuturnya.

    Sekedar diketahui, bangunan pabrik terbagi dua bangunan berukuran 18 x 22 Meter (M) dengan nilai proyek sebesar Rp 2,3 M. Sementara harga pengadaan mesin  Rp 700 juta menggunakan APBN. Per hari, pabrik tersebut diperkirakan mampu memproduksi 100 Kg biji kakao dalam bentuk kemasan coklat. (*)


    Penulis | Bahar