• Sukses Inovasi Gula Merah, Desa Wundubite Dapat Bantuan APBN

image_title
Ket: Kades Wundubite bersama tenaga ahli pembuatan gula merah di lokasi pembuatan gula merah, Minggu (07/20).
  • Share

    BUMISULTRA

    KOLAKA TIMUR - Desa Wundubite Kecamatan Poli - Polia Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) merupakan desa dengan penghasil gula aren terbesar di Koltim, rata - rata produksi perminggunya mencapai 4 ton itupun yang di kelola secara tradisional.

    Untuk lebih meningkatkan produksi serta pengelolaan gula dengan berbagai Inovasi khususnya di Desa. Maka Pemerintah Pusat melalui Kementrian Lingkungan Hidup mengadakan pelatihan pembuatan gula semut sekaligus pemberian bantuan rumah produksi serta alat - alat pembuatan gula.

    Untuk meningkatkan pengelolaan gula secara modern maka Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Ladongi selaku pelaksana kegiatan dari pemerintah pusat dan provinsi menggelar kegiatan Bintek bagi warga pembuat gula merah di Desa Wundubite.

    Kepala KPHP Ladongi Ahmad Lakai kepada media ini mengungkapkan, selama ini pengelolaan gula oleh masyarakat secara tradisional, namun lebih jauh lagi adalah bagaimana dengan inovasi gula ini dapat meningkatkan pendapatan perkapita bagi warga.

    ''Sehingga kami bekerjasama dengan tenaga ahli dari Universitas Haluoleo untuk memberikan bintek kepada masyarakat", ungkapnya saat di temui usai bintek Pembuatan gula semut di Desa wundubite, Minggu (07/10).

    Lebih lanjut ia mengatakan, "di sini juga kami memberikan bantuan alat produksi gula dan rumah produksi yang kami bangun Dua Unit yakni di Desa wundubite dan Desa Iwoimenggura. Kemudian terkait pemasaranya tentu akan di bantu oleh pemerintah dan KPHP sehingga hasil Inovasi gula ini bermamfaat bagi warga khususnya pendapatan perkapita warga, apalagi Wundubute adalah wilayah pengelolaan KPHP Ladongi. katanya.

    Kades wundubite Kamaruddin secara gamblang menjelaskan saat ini harga gula per kilonya 14 ribu, sementara produksi dalam perminggu mencapai 4 ton, pemasaranya ke Morowali, Kendari, Kolaka, dan Makassar.

    "Untuk tanaman aren saat ini mencapai ratusan hektar selain tanaman yang tumbuh secara alami, sebagian di budi daya oleh masyarakat pelaku usaha gula merah. Harapan kami dengan pelatihan ini dapat memunculkan ide bagi warga dengan berbagai inovasi sehingga dapat mendukung pendapatan warga,'' katanya.

    "Saat ini warga kami sudah ada dasar dalam pembuatan gula sekalipun masih tradisional, kemudian mereka sudah sering memasarkan keluar Kabupate Koltim, olehnya itu dengan adanya inovasi dalam pembuatan gula sehingga produksi gula makin meningkat di iringi dengan tingkat pendapatan perkapita warga meningkat, sehingga program pemberdayaan masyarakat ini berjalan mamfaatnya Desa kami dapat menuju Desa yang Mandiri", kata kamaruddin.

    Salah seorang warga pembuat gula Muin yang sering memasarkan gulanya ke luar Kabupaten mengatakan harga di petani itu mencapai Rp 14 ribu, ketika kami menjual ke Kendari dan wilayah lainya mencapai 16 ribu per kilo sekali bongkar. ''Sementara dalam sekilo gula yang di cetak berbentuk gumpalan naik 3 biji, tergantung ukuran besar cetakanya", tuturnya.

    Dikatakan dengan inovasi pembuatan gula merah menjadi gula semut yang di buat dengan kemasan, tentu dapat meningkatkan pendapatan mereka,  selain gula yang yang tradisional.

    ''Persoalannya saat ini apakah pemasaran gula semut itu dapat berkesinambungan tentu kami juga harus dibantu oleh pemerintah baik pemasaran gula semut maupun harga pasarnya, ini harapan teman - teman petani. Yang jelas saat ini pembuatan gula secara tadisional kami anggap sudah sukses di Wundubite", pungkasnya. (*)


    Penulis | Irwandar