• Kartini-Kartini Kabupatan Kolaka

image_title
Ket: Nur Aisa Rauf
  • Share

    BUMISULTRA

    ProgramRural Empowerment and Agricultural Development Scalling-up Innitiative (READ-SI) merupakan inisiasi perluasanProyek Rural Empowerment and Agricultural Development (READ) yang dilaksanakan padaTahun 2008 sampai dengan 2014 di 5 Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah dengan pendanaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) dari International Fund for Agricultural Development (IFAD).

    Proyek READ dinilai sebagai proyek yang berhasil oleh Bappenas.Proyek READ (yang rancangannya diperbaiki pada pertengahan pelaksanaan proyek) telah berhasilmemberdayakan petani kecil, meningkatkan pendapatan dan produksi serta memperkuat kelembagaan di desa melalui satu paket lengkap program pemberdayaan yang terintergrasi termasuk kemitraan dengan lembaga swasta yaitu PT MARS yang memberikan dukungan dalam inovasi teknologi untuk tanaman kakao.Survey dampakProyek READ yang membandingkan data rumah tangga sarasaran dan bukan sasaran program READ menunjukan adanya peningkatan indeks ketahanan pangan.

    ProyekREADtelah mampu mengurangi periode krisis pangan 94 persen rumah tangga sasaran menjadi kurang dari 3 bulan dengan rata-rata 1,9 bulan dan nilai maksimum paling parah yaitu 4 bulan, sedangkan rumah tangga yang bukan sasaran Proyek READ masih berada diatas 3 bulan dengan rata-rata 3,1 dan maksimum 10 bulan.

    Selain itu dari sisi peningkatan pendapatan, program READ telah mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga sasaran program READ (40% rumah tangga memiliki rata-rata pendapatan yang berada diatas garis kemiskinan) dan 83 persen peningkatan pendapatan tersebut berasal dari hasil pertanian.

    Apabila dilihat dari sisi pemberdayaan perempuan, Proyek READ telah mampu meningkatkan partisipasi perempuan dalam program pemberdayaan yang ditunjukan dengan peningkatan partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan baik di tingkat rumah tangga dan desa serta telah meningkat aksesibilitasnya terhadap sumberdaya ekonomi, pertanian dan keuangan.

    Selain itu, program READ juga mampu meningkatkan kemampuan 91 persen rumah tangga sasaran dalam mengakses pasar, 95 persen rumah tangga sasaran dalam mengakses kredit dan 81 persen rumah tangga sasaran dalam mengakses layanan keuangan dalam 12 belas bulan terakhir pelaksanaan program READ.

    Berdasarkan keberhasilan tersebut, pemerintah menilai Proyek READ sebagai salah satu model pemberdayaan yang telah mampu mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional,sehingga program READ perlu di tingkatkan skalanya. Pada tahun 2015 Kementerian Pertanian menyediakan anggaran untuk mereplikasi program READ melalui pendanaan APBN di 2 (dua) kabupaten perbatasan yaitu Kabupaten Belu dan Kabupaten Kupang di Provinsi Nusa Tenggara Timur serta Kabupaten Sambas dan Kabupaten Sanggau di Provinsi Kalimantan Barat dengan total anggaran Rp 20 Miliar per tahun (USD 1,45 Juta). Namun demikian, karena latar belakang geografis, kondisi pertanian dan sosial ekonomi masyarakat yang sangat berbeda, progres pelaksanaan Program Replikasi READ tersebut lebih lambat dari yang diharapkan.

     Berdasarkan kondisi tersebut, pemerintah menilai perlunya lanjutan kerjasama dengan IFAD dalam memperluas Proyek READ. Permohonan untuk memperoleh pendanaan dari IFAD untuk memperluas Proyek READ dimasukan dalam “Blue Book” period 2015 – 2019. Pada tanggal 31 Agustus 2017 IFAD telah menyetujui untuk menyediakan dana pinjaman sebanyak USD 33,8 jutauntuk mendanai program replikasi READ selama 5 (lima) tahun yaitu dari tahun 2018 sampai dengan 2022.

    Proyek READ-SI dirancang sebagai peningkatan (upgrading) model pendekatan Proyek READ dan akan mengubah paradigma ‘proyek’ yang berdiri sendiri (stand alone) menjadi paradigma program yang lebih luas dan inklusif dengan tujuan untuk menarik investasi swasta dan masyarakat dalam kegiatan proyek. Pendekatan yang akan ditetapkan pada Program READ-SI diharapkan dapat lebih meningkatkan skalanya melalui pemberdayaan masyarakat secara Nasional.

    Strategi peningkatan skala proyek READ-SI akan mengkombinasikan hasil uji coba dan perbaikan (testing and refining) pendekatan Proyek READ yang dilaksanakandalam kondisi geografis yang berbdeda melalui pengelolaan pengetahuan yang kuat (strong knowledge management) berdasarkankerangka kerja kebijakan dengan mengacu pada bukti nyata, dan penguatan kapasitas kelembagaan. Kehadiran READSI di Sultra berada di 3 kabupaten yaitu Kab. Konawe, Kab. Kolaka dan Kab. Kolaka Utara dimana setiap Kabupaten ada 18 desa dampingan, dan setiap desa ada 7 kelompok tani , yang 1 kelompok nya ada KWT (Kelompok Wanita Tani).  Berikut salah satu profil anggota KWT Mekar Jaya Desa Puudongi Kec. Polinggona Kab. Kolaka

     

    Nama:Samsurianti

    Umur :42

    Pekerjaan  :  IRT / Anggota KWT

    Suami: H.Muh.Akiel

    Pekerjaan Suami:Wirasuasta

    Ibu Samsuriati adalah salah seorang anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Puudongi Kec. Polinggona Kab. Kolaka yang sekarang aktif menanam sayur-sayuran hasil aplikasi dari SL (Sekolah Lapang) yang di adakan oleg program READSI.

    Sebelum ikut READSI, ibu Samsuriati adalah ibu rumah tangga yang aktif juga membantu suami yang pada sat itu juga adalah Kepala Desa Puudongi,  kegiatan yang di kerjakan adalah membuat kue bersama ibu-ibu lainnya, juga bercocock tanam di kebun diantaranya menanam nilam, cengkeh dan lada.

    Saat  suami masih  kepala desa, kelompok ibu Samsuriati yang di beri nama juga Kelompok Mekar Jaya  waktu ada kunjungan pameran wakil bupati, pak wakil bupati , memberikan bantuan sebesar 2juta, setelah melihat produk kue kelompok berupa krupuk bantal, kacang sembunyi, kacang telur, di jual dapat batuan kelompok untuk pembuatan kue, dimana kue-kue tsb di jual di warung-warung di Desa Puudongi dan termasuk diluar desa, jumlah anggota pada saat itu juga 25 orang.

    Kegiatan ini berjalan hingga tahun 2016. Dimana saat suami meninggal saya harus tetap kerja dengan menggunakan peralatan kebun dari suami untuk menanam nilam, dan usaha kue pun mandek pada tahun 2017 dibubarkan begitu juga ibu-ibu yang lain tidak berlanjut,  sisa 7 orang saja  yg ikt KWT,  setelah buat kue rata-rata ibu-ibu langsung menanam nilam dalam bentuk kelompok juga karena menanam nilam tetap berkelompok kalau saat membersihkannya.

    Namun sekarang nilam sudah tidak ada , karena musim kemarau diganti dengan tanam jagung dan cengkeh sebagai tanaman antara. Namun hal ini tidak berlangsung lama karena setelah menikah lagi tahun 2018, hanya berkebun cengkeh, jeruk, karena  suami melarang menanam nilam, agar mengurus anak.

    Namun karena jiwa pekerja saya tidak pernah pudar bersama dengan ibu-ibu yang kelompok yang lalu kami membentuk KWT Mekar Jaya  lagi saat ada program READSI masuk di Desa Puudongi pada tahun 2019 karena syarat program dalam suatu desa harus ada keterlibatan perempuan 30 % kelompok tani.

    Alhamdulillah kegiatan sekarang kami setelah mengikuti SL (Sekolah Lapang) yang materinya di berikan oleh penyuluh, kami sudah dapat ilmu menanam yang sebenarnya, jika dulu saya menanam hanya asal saja dan seadanya saja namun sekarang kami sudah menanam dengan mengikuti cara penyuluh mulai dari cara menemai, mengatur jarak, pemberian pupuk, pembuatan pupuk organic semua kami jalani. 

     Kami anggota KWT di setiap pekarangan sudah memanfaatkan lahan untuk menanami sayuran, disamping ada lahan untuk percontohan kelompok di depan rumah ketua kelompok, dimana pemeliharaannya kami giliran sesama anggota. Adapun manfaat yang kami peroleh setelah mengikuti SL READSI ini kalau dulu kami selalu beli sayuran tapi sekarang untuk sayuran kami sudah tidak membeli lagi sayuran, malah jika ada keluarga yang berkunjung sudah bisa membawa oleh-oleh sayuran dari pekarangan sendiri. Jika sudah banyak sayurannya kami juga sudah bisa menjualnya walau masih di dalam desa saja.

    Ditengah COVID 19 ini dengan menggunakan masker kami juga tetap merawat tanaman kami karena dari sinilah kami hidup, dengan tetap menjaga jarak sesuai anjuran pemerintah.  Harapan anggota KWT agar diberikan juga pelatihan-pelatihan pembuatan minuman dari bahan jeruk karena melimpahnya hasil jeruk di Desa Puudongi. Kami perempuan yang dulu berbeda dengan sekarang, kami sudah tidak berpangku tangan saja menunggu penghasilan suami tapi ikut juga membantu suami walau hanya menanam sayuran dan apotik hidup di pekarangan yang selalu di dampingi oleh Fasilitator Desa Puudongi READSI , Ibu Iluh dewi sari dengan penuh kesabaran. (*)

    Penulis:  Nur Aisa Rauf, Koorwil READSI Prov. Sultra

     


    Penulis | Redaksi