• Kapolda Diminta Tangkap Pelaku Pembuat Replika Pocong Bertulis 'Ali Mazi'

image_title
Ket: Suharmin Arfad
  • Share

    BUMISULTRA

    BAUBAU--Menyampaikan pendapat di muka umum sah-sah saja dalam sebuah negara demokrasi bahkan dilindungi oleh undang-undang. Namun penyampaiannya harus beretika dan menggunakan cara-cara yang santun. Segala agenda politik dan kebijakan yang sifatnya debatebel dapat didiskusikan dengan mekanisme yang dibenarkan undang-undang.

    Mahasiswa sebagai sosial Control dan agen pembaharu harus bisa memberikan contoh dan pembelajaran yang baik terhadap masyarakat. Teranyar, protes tentang kedatangan TKA ke Sultra sebagai tenaga Ahli di Virtue Dragon yang demo di gerbang masuk Kota Kendari dari arah bandara. Dalam demo tersebut, tampak beberapa orang membuat replika pocong bertuliskan nama gubernur. Hal ini merupakan bentuk pelecehan dan penghinaan terhadap pribadi Gubernur.

    Hal tersebut memantik respon segenap elemen Pemuda dan Mahasiswa serta aktivis asal Buton. Diantaranya adalah mantan Ketua Perguruan Tinggi dan Kepemudaan (PTKP) Kerukunan Mahasiswa Indonesia Buton (KMIB) Kendari, serta Pembina Kerukunan Mahasiswa Buton Selatan, Suharmin Arfad.

    ''Terlepas dari gubernur adalah pejabat pemerintahan yang tidak boleh anti kritik, penggunaan simbol-simbol kematian dan mayat tentu menyakiti keluarga, sahabat dan seluruh kerabat terutama masyarakat Buton,'' katanya pada Bumisultra dalam rilisnya, Kamis (25/6/2020).

    Ditempat yang sama, Malik Ibrahim, Aktivis HMI yang sekarang menjabat sebagai Ketua PAO BADKO HMI Sultra mengecam tindakan tersebut. Pria yang kerap disama Malik tersebut juga menjelaskan bahwa di masa wabah Covid 19 ini, ada instruksi Kapolri yang harus dipatuhi dan ditegakkan.

    ''Sehingga kami meminta Kapolda tegakkan hukum dengan tangkap pelaku penghinaan terhadap Gubernur Sultra. Terlepas sebagai gubernur, beliau adalah orang tua sekaligus pemimpin kita. Dalam surat An-nisa ayat 59 hal tersebut dijelaskan bahwa taatilah Allah, taatilah Rasul serta Ulil Amri atau Pemimpin,'' tandasnya.

    Sementara itu Rizal Masihu, Senior Kerukunan Mahasiswa Buton Tengah menegaskan Penggunaan replika pocong bertuliskan Ali Mazi ini merupakan bentuk provokasi yang sesungguhnya sangat menyakitkan masyarakat, pemuda dan seluruh elemen masyarakat Sulawesi Tenggara dan terkhusus masyarakat Buton di seluruh Nusantara.

    Sebagai penutup, Suharmin Arfad meminta kepada seluruh generasi Buton untuk merapatkan barisan untuk mengedepankan intelektualitas dan tingkah laku berbudaya dalam melakukan kritik kepada siapapun dan atas dasar apapun.  ''"Hanya mereka yang tidak berbudaya dan memiliki intelektualitas rendah,'' tandasnya.(*)

     


    Penulis | Alamsyah