• Udang Lithopenaus Vanname Dikembangbiakkan di Wakatobi Target Dikelola Massal

image_title
Ket: Bupati Wakatobi, H.Haliana,SE saat melepas benur udang vanname di kolam pembiakkan di Desa Numana.
  • Share

    BUMISULTRA

    WAKATOBI - Usai mendekati keberhasilan pembiakan udang jenis lithopenaus vanname tanpa kematian hingga capai umur dewasa kini Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara berinisiatif mengelolanya secara massal.

    Lewat Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan setempat, Mujiarto menjelaskan langkah pengembangan ditarget lewat badan usaha milik daerah (BUMD) guna mengembangkan massal udang lithopenaus vanname atau biasa masyarakat setempat menyebutnya dengan udang Vanname.

    Kata dia, selama pengembangbiakkan sejak penaburan bibit dalam bentuk PL (post larva) atau benur hingga mendekati dewasa usia 56 hari belum satupun  mengalami kematian padahal wadah kolam hanya berdiameter 10 meter menampung 42 ribu ekor.

    "Tanggal 6 Desember 2021 bibitnya ditebar dan sekarang sudah mencapai usia dewasa.
    Saat ditebar masih berbentuk benur sebanyak 42 ribu ekor dan 1 atau 2 hari ini akan dikurangi dengan cara panen parsial", terang Mujiarto, Senin (31/1/) lalu.

    Panen parsial dimaksud sebagai langkah pengurangan jumlah benih agar terjadi penyesuaian diameter kolam dengan jumlah udang. Kekhawatirannya, bertambahnya umur udang bisa menjadi predator sesamanya akibat wadahnya yang terbatas.

    Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Wakatobi, Mujiarto turut menabur benih post larva di kolam pembiakkan

    ''Panen parsial ini rencanyanya akan dijual lokal sebab kita belum punya kolam alternatif, idealnya kolam diameter 10 meter hanya bisa menampung 30 ribu ekor", tambah salah satu anggota KAHMI Wakatobi tersebut.

    Dengan jumlah itu, perkiraan masa panen jelang usia 3 bulan pun bisa ditarget hasil maksimal. Jika sesuai hitungan DKP setempat dalam 30 ekor udang ditaksir 1 kg maka 30 ribu ekor bisa menghasilkan 1 ton.

    Sementara anggaran pilot project yang disiapkan Pemda setempat lewat pengelolaan oleh pihak ketiga hanya berkisar kurang lebih 190 jutaan telah inklut anggaran pembuatan media kolam, blower, pakan, bibit, vitamin dan lainnya.

    Mengenai harga jual sejauh ini belum bisa dipastikan. Kata dia, bisa jadi pendamping tak lain adalah teknisi yang sengaja didatangkan Pemda menjadi penampungnya berhubung mereka lebih dulu memilki jaringan pemasaran.

    "Untuk kendala, sejauh ini hanya saat mati lampu itupun sudah diantisipasi dengan Ganset. Kedua teknisi, SDM lokal masih belum cukup maka kitapun mendorong masyarakat belajar selain study ke Bombana juga belajar langsung lewat teknisi itu sebab harapan Pemda SDM lokal mestinya prioritas", bebernya.

    Langkah selanjutnya adalah pengembangan dan kemungkinan lewat BUMD. Setelahnya, pihak Pemda berupa pengelolaan secara mandiri lewat rumah tangga perorangan setelah dilakukan serangkaian latihan menyangkut pengelolaan, dan tahap pembesaran.

    Juskan, salah satu tenaga teknisi udang Vanname menyebut pihaknya belum pernah gagal selama pendampingan. Contohnya wilayah pembinaan yang mirip perlakuannya dengan Wakatobi yakni Bombana.

    "Wilayah tugas saya dari Kolaka, Bombana sampai Morowali, sekaligus menjadi marketing pakan diarea tersebut, dengan merk pakan Evergreen yang dipakai. Meski pakan sama namun ada ukuran khusus dari bibit PL (post larva) sampai ukuran udang dewasa hingga capai usia 3-4 bulan masa panen", paparnya

    Usia 56 hari. Selasa (1/2/2022)

    Masih dalam kisahnya, Bombana yang lebih dulu mengembangkan udang Vanname memiliki 24 kolam dengan bibit 2,2 juta ekor.  Hasilnya, pertama panen mencapai 22 ton, berikutnya hingga 26 ton.

    Pembelian bibit dalam bentuk PL seharga 50-54 rupiah perekor didatangkan langsung dari Sulawesi Selatan. Untuk Wakatobi dari jumlah 42 ribu ekor belum ada taksiran harga bila ditambahkan harga pakan 14.600 perkg lewat perusahaannya di Lampung.

    Udang lithopenaus vanname dikembangkan pertama kali di Kabupaten Wakatobi tepatnya di Desa Numana, Kecamatan Wangiwangi Selatan

    Saat launching, Bupati Wakatobi, H.Haliana  turut penabur 30 ribu PL kemudian disusul sebanyak 12 ribu.

    H.Haliana mengulas perbandingan antara luasan yang dipakai udang vanname dengan menggunakan sistem bioflok dan tambak udang tradisi di pantai-pantai dengan digali atau pematang itu satu banding 80. (*)


    Penulis | La Ilu Mane