• Meriahnya Kafilah Pawai Ta'aruf MTQ XXVII Sultra

image_title
Ket: Rombongan Kafilah Buton Utara Saat Pawai Ta'aruf MTQ XXVII
  • Share

    BUMISULTRA

    BUTUR - Pawai Ta'aruf MTQ XXVII yang diikuti ribuan Kafilah dari 17 kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara (Sultra) membuat pelaksanaan bernuansa islami, yang dipusatkan di Kabupaten Buton Utara (Butur), Selasa (20/3) itu tampak lebih meriah


    Masing-masing kafilah bertolak dari Gedung Olahraga, mengitari jalan sekitar beberapa kilo meter, menuju panggung penghormatan, yang sebelum itu melakukan start di depan sekretariat daerah


    Mulai dari seragam peserta pawai, hiasan kendaraan, musik, dan gendang menghadirkan suasana yang islami. Selain itu, utusan masing-masing kabupaten dan kota, juga tampil dengan ciri khas daerah masing masing.


    Tampilkan Mobil Hias, Bernuansa Religius


    Kafilah Butur diawali dengan sepasang muda- mudi yang  disebut tama mahampa (laki laki gagah) dan Randa mokesa (cewek cantik) .


    Tama Mahampa dan Randa Mokesa sebagai wujud panorama Butur penuh pesona. Nenyusul mobil hias yang bertemakan Butur yang aman berbudaya dan religius menjadi Butur yang maju dan sejahtera. 


    Desain mobil hias ini bernuansa Islami. Dimana, di bagian depan terdapat replika Kulisusu (kulit kerang) berisikan mutiara yang ditopang oleh enam pilar utama yang melambangkan enam kecamatan cakupan wilayah Butur. 


    Begitupun juga dengan replika Alquran. Dimana, replika Alquran ini sebagai gambaran mutiara yang menjadi tuntunan umat manusia yang mengiringi langkah menuju kehidupan yang aman.


    Pemda Butur sebagai bentuk yang kokoh dalam menjaga nilai-nilai islam yang terjewentahkan pada falsafah hidup "Tosadae, Tolekanunu, Topekalaha, Topekamasiako" dalam memperkokoh persatuan untuk membangun daerah dengan prinsip dasar Lipu Tinadeakono Sara, negeri tegaknya Adat dan Budaya.


    Kafilah Butur Diiringi Drum Band, Pukau PJ Gubernur Sultra


    Selaku tuan rumah, kafilah Kabupaten Buton Utara dipimpin  Muh Yasin selaku sekretaris daerah menurunkan 2.500  kafilah untuk  memeriahkan pawai taaruf. Tak hanya itu, mobil hias bernuansa keagamaan dibuat sepanjang 13 meter dan lebar 5 meter mengangkut sejumlah hasil pangan organik dengan tema"Butur yang aman berbudaya dan religius menjadi Butur yang maju dan sejahtera".


    Rombongan kafilah tuan rumah juga diiringi drum band. Pada kesempatan itu, drum band sempat melakukan atraksi yang membuat PJ Gubernur Sultra Teguh Setyabudi terpukau. Begitupun dengan Bupati Butur Abu Hasan yang selalu tersenyum sumringah anak-anak drum band finish melakukan atraksi.


    Tepuh tangan para undangan serta masyarakat yang menyaksikan atraksi menambah suasana semarak. 

    Kafilah Butur Persembahkan Dulang Kepada Pj Gubernur


    Kafilah Butur sempat mempersembahkan dulang kepada PJ Gubernur Sultra Teguh Setyabudi. Dulang tersebut berisikan berbagai macam makanan hasil pertanian Butur. 


    Dulang tersebut diserahkan langsung Muh Yasin kepada Teguh. Orang nomor satu di Sultra ini terlihat antusias menerima pemberian itu. Bahkan, ia sempat memeluk Muh Yasin. 


    Dulang sendiri merupakan tempat atau sajian makanan pada saat haroa atau ajang silaturahmi yang dirangkaikan dengan doa dan makan. 


    Biasanya dilaksanakan pada bukan rajab,  shaban,  lebaran idul Fitri, idul adha,  maulit nabu,  akhir tahun selesai panen raya, nazar,  acara acara adat atau acara kenegaraan dimasa lalu


    Selain Dulang, dalam pawai taaruf itu Kafilah Butur ikut diiringi nyanyian adat atau biasa dikenal dengan nama Maludu. Budaya ini syarat dengan nilai-nilai religius dalam bentuk syair seperti lagu Maludu, yang merupakan tradisi turun temurun.


    Dimana lagu Maludu merupakan lagu Butur yang dihelat pada acara tertentu, misalnya datangnya bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, acara pernikahan, akikah, dan acara lainnya

    Lagu Malundu bagi orang nazar yang sembuh dari penyakitnya dilakukan pada malam hari. Tujuanya untuk menghibur pasien yang terkena bencana sakit. Sedangkan, pada acara akikah sama dilaksanakan pada malam hari untuk menghibur keluarga yang bahagia mendapatkan keturunan.

    Lagu Maludu juga dikerjakan oleh orang orang yang mampu finansialnya, karena melibatkan undangan keluarga. Pada acara pernikahan, lagu Maludu biasanya diperankan oleh lebih dari satu orang dan disaat malam Poiya atau malam pacar. Tujuanya untuk menghibur dan menemani pengantin semalam suntuk duduk menunggu ijab kabul esok harinya.


    Penulis | Adar