• Kembangkan Padi di Wakatobi, Dinas Pertanian; Kita Berhasil Jawab Opini Masyarakat

image_title
Ket: Foto bersama Kadis Pertanian, Ir.Tamrin,M.Si bersama para Panyuluh pertanian dan petani padi, Sarifudin(50) Warga asal Kelurahan Wanci, Kec.Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi
  • Share

    BUMISULTRA

    WAKATOBI - Opini yang selalu berkembang menyasar publik terkait padi tak bisa dikembangkan di Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara, terjawab dengan hadirnya petani padi. Hal itu diungkap kepala Dinas Pertanian, Ir.Tamrin usai meninjau lahan padi di Kelurahan Wanci pada Kamis (20/3/2020).

    Adalah Sarifudin(50), warga kelurahan Wanci berhasil menanam dan mengembangkan padi varietas Impari 33 dan menunggu panennya beberapa hari mendatang setelah ia menanamnya bulan Januari lalu.

    Sarifudin yang memiliki segudang pengalaman di Indramayu, Jawa Barat kurun waktu 30 tahun tersebut menyebut masa tanam varietas Impari 33 berlangsung 3 bulan15 hari sebelum akhinya bisa panen. Pastinya dalam setahun lahan tanam bisa diolah 3 kali.

    Ia menyebut Indramayu dikategorikan Pemerintah sebagai lumbung padi nasional.Pengalamannya menjadi petani bisa membantu petani-petani di Kabupaten Wakatobi.

    Bahkan sejumlah varietas padi seperti Padi siserang bisa dibawah ke Wakatobi mengingat kondisinya bisa bertahan meski curah hujan kategori rendah.Samahalnya Varietas Impari 33 meski dilahan tanah kering tanpa hujan bisa menyimpan air.

    Bahkan kata dia, keunggulan tanah di Wakatobi yang cenderung merah kehitaman sulit ada di Indramayu. Artinya, kata dia, kualitas tanah tertentu Wakatobi cukup baik untuk tanaman padi varietas tertentu.

    "Kita tak kalah saing soal lahan hanya kita terbatas alat dan bahan-bahan penunjang lain seperti halnya pupuk perangsang padi", sebutnya.

    Buktinya lahan yang diolah percobaan dengan luas 0,25 ha, dikebun miliknya di Kelurahan Wanci dalam waktu beberapa hari ia perkirakan mampu panen 1,5 ton dengan isi bersih 75-80 persen dari gabahnya, itupun melihat kondisi kebunnya yang subur perkiraannya bisa lebih dari itu.

    Hal inilah membuat Pemerintah Daerah(Pemda) lewat Dinas Pertanian setempat mendorong petani lain seperti halnya, Sarifudin. Selain menyiapkan kebutuhan alat pertanian para penyuluh sebanyak 85 orang diarahkan mendata pemilik lahan yang masuk kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B ) agar bisa ditanami padi.

    Dari 1.000 ha LP2B berada 8 kecamatan telah diarsir oleh Universitas Hasanuddin beberapa waktu lalu, rencananya bakal didorong ke DPRD untuk di perdakan.Tahun ini lahan LP2B di pulau Kaledupa dipersiapkan ditanami padi seluas 10 ha.

    Meski saat kunjungan tim Unhas belum ada tanaman padi akantetapi hadirnya petani padi menjadi tambahan pertimbangan LP2B itu dikembangkan.

    "Waktu datang tim belum ada petani padi, sehingga kita masukkan tambahan padi. Saya anjurkan kepala Bidang Penyuluh mengidentifikasi pemilik lahan masuk kawasan LP2B agar diperluas area persawahan demplot sehingga ada konektifitas usulan baik propinsi maupun pusat. Semua lahan yang mungkin dikembangkan padi kita usaha kedepan kita kembangkan",sebut Ir.Tamrin.

     Ketgam : Sarifuddin Petani padi

    Menurutnya, Wakatobi yang mengalami perubahan musim penghujan dan kemarau menjadi isu utamanya adalah isu iklim selain isu SDM dan pangan. Ini menjadi tantangan petani sehingga ada alternatif Pemda menjawabnya.

    "Sesuai laporan Klimatologi dan pemetaan kami, kita bisa simpulkan kemarau lebih panjang terjadi 8 bulan rata-rata setahun. Jadi musim penghujung hanya 4 bulan ini cukup menjadi dasar bahwa pertanian tanpa air itu tak bisa petani berbuat apa-apa. Sehingga langkah kedepan kita bisa koordinasi dengan pihak terkait didaerah, pemerintah propinsi dan pusat untuk memikirkan itu", sambungnya.

    Ia menyebut selain sumur bor yang telah diprogramkan Pemda juga alternatif embung bak penampung air. Embung bak juga selain disiapkan sistem beton juga ada galian besar seperti halnya bendungan penampung air tadah hujan yang susah kering. Nantinya lewat embung bak itu akan dialirkan air ke pipa menuju lahan pertanian petani.

    Berbeda halnya kawasan yang tak masuk LP2B, dimana padi tak dikembangkan, bisa dipikirkan alternatif lain. Semisal Pulau Binongko, pulau dengan bebatuan ini hanya sedikit kawasan masuk LP2B selain Desa Wali.

    Selain lahan pertanian, pulau itu dikembangkan peternakan sesuai kondisi daerahnya.Hal lain bagi petani di Desa Wali bisa dibuatkan embung bak meski ukurannya tak seperti pulau lainnya.

    "Hanya dengan cara itu petani Wakatobi bisa terbantu. Kita tak bisa bicara irigasi seperti daerah lain dimana ada bendungan air mengalir, kita tak bisa bicara itu di Wakatobi,'' cetusnya.

    Ia menyebut langkah membuka lahan pertanian padi bukan sekedar membuka mata publik agar kembali memanfaatkan kebun terutama masuk kawasan LP2B, dimana kebun-kebun itu sebagian ditinggalkan pemilik atau lebih memilih diolah jadi bahan pembuatan batu bata merah.

    "Kita juga sekaligus memberikan wawasan masyarakat terkait isu pangan. Dimana isu ini menjadi isu dunia saat ini apalagi mewabahnya Virus Corona,'' paparnya.

    Tamrin sapaan akrab Kadis Pertanian, kembali menjelaskan Wakatobi ditengah isu pangan dunia. Sesuai pendataan pihaknya diperoleh data per Februari 2020 masih kategori cukup memenuhi kebutuhan perkapita masyarakat terutama jenis umbian apalagi transportasi masih memungkinkan mengangkut kebutuhan pangan dari luar Wakatobi.

    "Untuk tanaman ubi kayu posisi Februari luas tanam kita 990,3 ha (siap panen) dan sudah panen 982 ha dengan berat basah produksi 21.982 ton. Produksi pangan ubi sesuai kebutuhan perkapita penduduk Wakatobi masih aman, dari sekian produksi dibagi jumlah penduduk masih memiliki per 1 penduduk sekitar 0,507 kg. Apalagi di Wakatobi tingkat konsumsi jenis ubian cukup tinggi",rincinya.

    Berbeda dengan luas panen jagung dari 202 ha produksi diperkiraan beredar dipasar sekitar 600 ton. Demikian Kacang tanah 11 ha produksi 16 ton, Ubi jalar 26 ha mampu produksi 446 ton.

    Diklaimnya keseluruhan produksi dari bahan pangan ubi kayu, jagung untuk sementara penduduk Wakatobi masih aman.Termasuk cabai cukup banyak sekitar 78,5 ton. Kacang panjang, Kangkung dan sawi diatas angka rata-rata keseluruhan 100 ton.

    "Untuk posisi sayuran pun sejauh ini kita masih aman. Orientasi pasar belum memberikan dampak. Yang berbahaya jika produksi kita langkah. Ini semua sebagai antisipasi komoditas-komoditas datangnya dari luar daerah akan sedikit terhambat. Tetapi data orientasi kepasar melihat yang bisa kita kembangkan disini seperti sayuran masih aman", imbuhnya.

    "Kan yang pengaruhi inflasi adalah kebutuhan pokok seperti pangan, sayuran, cabe, bawang merah. Yang kita lihat saat ini masih memungkinkan hanya akan berbeda kedepan sehingga ada rapat PPID dan Bupati kami dari Dinas pertanian ini akan kami jelaskan", sambungnya.

    Alhasil usai meninjau lahan pertanian padi milik Sarifudin. Ia melanjutkan sidak ke Pasar Central Wangi-Wangi. Di pasar yang hari-hari menjual kebutuhan pokok itu rupanya harga cenderung bervariasi.

    Jenis sayur yang biasa dibandrol Rp.5000 perikat hanya berkisar Rp.4000-an. Yang naik bawang merah asal NTT dari harga 20 ribu perkg naik menjadi 35 ribu. Lonjakan harga adalah beras. Beras polos super biasa dibandrol harga Rp.530.000 per 50 kg naik menjadi Rp.600.000 demikian merk lain yang cenderung naik rata-rata 17 persen. (**)


    Penulis | La Ilu Mane