• Wakatobi Ungguli Daerah Lain Sikapi Sampah Plastik

image_title
Ket: Peringatan HPS di Marina Beach Kabupaten Wakatobi dibuka langsung Gubernur Sultra, Ali Mazi
  • Share

    BUMISULTRA

    WAKATOBI - Sikapi sampah plastik rupanya Kabupaten Wakatobi ungguli daerah lain di Sultra terutama soal regulasi pengelolaan sampah plastik. Hal itu diungkap Bupati Kabupaten Wakatobi,H.Arhawi saat memberikan sambutan pada puncak peringatan Hari Peduli Sampah

    WAKATOBI - Sikapi sampah plastik rupanya Kabupaten Wakatobi ungguli daerah lain di Sultra terutama soal regulasi pengelolaan sampah plastik.Hal itu diungkap Bupati Kabupaten Wakatobi,H.Arhawi saat memberikan sambutan pada puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional(HPSN) 2019 tingkat prooinsi bertempat di Marina Beach Kecamatan Wangi-Wangi pada Minggu(10/3/2019)

    "Kami telah membuat Peraturan Bupati(Perbub) yang telah mengintruksikan kepada seluruh kantor, seluruh masyarakat agar pengendalian saampah menjadi hal yang penting"Ungkap H.Arhawi.

    Seiring pengakuannya itu, Kabupaten Wakatobi tercatat sejak tiga tahun pasca mekar menjadi Kabupaten Defenitif kurun waktu 2006 silam telah diatur Perbub pelayanan persampahan menyusul Perbub nomor 2 tahun 2014 tentang pengelolaan sampah dan nomor 12 tahun 2018 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga.

    Lebih lanjut Arhawi menyebut perihal aturan sampah juga tertuang dalam undang-undang(UU) nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah dimana pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kwalitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.

    "Data tahun 2016 lalu, sampah dunia adalah botol minuman. ada 48.480 millyar botol plastik terjual berarti lebih dari satu juta botol dalam satu menit. sedangkan sampai sekarang belum ada alat yang bisa melakukan pemulihan sebanyak satu juta botol permenit",Paparnya.

    Demikian disebut data Dinas Lingkungan Hidup setempat menunjukan volume timbulnya sampah kurun waktu tahun 2018 tercatat sebanyak 23.580 ribu meter kubik dengan perbandingan sampah organik sebanyak 12.497 meter kubik dan non organik sebanyak 11.083 meter kubik dimana volume pengurangan baru menvapai sebesar 2.122 meter kunik.

    Ia mwnyebut meski sampah plastik baru ada pada tahun 60 atau 70-an tahun lalu namun mampu mendominasi kehidupan manusia saat ini.Hal itu pula didasari tercatatnya sampah plastik sebanyak 6,3 milyar ton di bumi. jumlah tersebut mengindikasikan bahwa pengolaan sampah menjadi sasaran utama dalam pembangunan

    Sehingga turut mengingatkan jika pengolaan sampah menjadi tugas pemerintah dimana pemerintah harus menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat dan melaukan koordinasi dengan pihak pengusaha agar terdapat keterpaduan dalam pengolaan sampah terutama sampah plastik

    "HPSN tahun 2019 kami mengajak seluruh masyarakat wakatobi untuk membatasi penggunaan barang yang menyebabkan sampah, menggunakan kembali barang atau bahan yang pernah dipakai serta menggunakan barang barang lama dipakai",Harapnya.

    Arhawi turut mengklarifikasi matinya ikan paus di Kabupaten Wakatobi yang telah menjadi isu nasional dan dunia namun ia menyebut dugaan matinya ikan paus dengan tumpukan sampah sebanyak 5,9 kg itu bukan karena mati dan makan sampah di wakatobi tapi justru paus tersebut datang berlindung karena laut wakatobi masih sangat bersih dan murni.

    "Agar diketahui pula oleh Bapak Gunernur bahwa sebelum kegiatan ini ada 250 titik dikabupaten wakatobi yang telah kami lakukan gerakan dalam rangka mengendalikan, memungut sampah serta membangun kesadaran edukasi kepada masyarakat",Tambahnya.

    Ia lebih rinci menggambarkan potensi sumberdaya alam Kabupaten Wakatobi dengan keterbatasan wilayah yang dimiliki terdiri dari 97 persen laut dan hanya 3 persen daratan. Namun justru ragam kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia yaitu 750 spesies karang dari 850 spesies karang di dunia, memiliki 942 jenis ikan kemudian 90 hektar terumbu karang dan 48 Kilometer karang atol kaledupa yang merupakan karang atol terpanjang di dunia.

    "Karena potensi tersebut wakatobi telah ditetapkan sebagai cagar biosfer bumi yang mana semua itu tidak lain adalah untuk kesejahteraan masyarakat Wakatobi. Wakatobi juga telah ditetapkan sebagai satu dari sepuluh top destinasi pariwisata nasional. hanya 10 bali baru dari lima ratus lebih kabupaten kota.Sehingga semua potensi itu tanpa dijaga dengan aturan regulasi yang tepat,'' tutupnya.

    Nasional(HPSN) 2019 tingkat prooinsi bertempat di Marina Beach Kecamatan Wangi-Wangi pada Minggu(10/3/2019). "Kami telah membuat Peraturan Bupati(Perbub) yang telah mengintruksikan kepada seluruh kantor, seluruh masyarakat agar pengendalian saampah menjadi hal yang penting" ungkap H.Arhawi.

    Seiring pengakuannya itu, Kabupaten Wakatobi tercatat sejak tiga tahun pasca mekar menjadi Kabupaten Defenitif kurun waktu 2006 silam telah diatur Perbub pelayanan persampahan menyusul Perbub nomor 2 tahun 2014 tentang pengelolaan sampah dan nomor 12 tahun 2018 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga.

    Lebih lanjut Arhawi menyebut perihal aturan sampah juga tertuang dalam undang-undang(UU) nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah dimana pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kwalitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.

    "Data tahun 2016 lalu, sampah dunia adalah botol minuman. ada 48.480 millyar botol plastik terjual berarti lebih dari satu juta botol dalam satu menit. sedangkan sampai sekarang belum ada alat yang bisa melakukan pemulihan sebanyak satu juta botol permenit" paparnya.

    Demikian disebut data Dinas Lingkungan Hidup setempat menunjukan volume timbulnya sampah kurun waktu tahun 2018 tercatat sebanyak 23.580 ribu meter kubik dengan perbandingan sampah organik sebanyak 12.497 meter kubik dan non organik sebanyak 11.083 meter kubik dimana volume pengurangan baru menvapai sebesar 2.122 meter kunik.

    Ia mwnyebut meski sampah plastik baru ada pada tahun 60 atau 70-an tahun lalu namun mampu mendominasi kehidupan manusia saat ini.Hal itu pula didasari tercatatnya sampah plastik sebanyak 6,3 milyar ton di bumi. jumlah tersebut mengindikasikan bahwa pengolaan sampah menjadi sasaran utama dalam pembangunan

    Sehingga turut mengingatkan jika pengolaan sampah menjadi tugas pemerintah dimana pemerintah harus menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat dan melaukan koordinasi dengan pihak pengusaha agar terdapat keterpaduan dalam pengolaan sampah terutama sampah plastik

    "HPSN tahun 2019 kami mengajak seluruh masyarakat wakatobi untuk membatasi penggunaan barang yang menyebabkan sampah, menggunakan kembali barang atau bahan yang pernah dipakai serta menggunakan barang barang lama dipakai", harapnya.

    Arhawi turut mengklarifikasi matinya ikan paus di Kabupaten Wakatobi yang telah menjadi isu nasional dan dunia namun ia menyebut dugaan matinya ikan paus dengan tumpukan sampah sebanyak 5,9 kg itu bukan karena mati dan makan sampah di wakatobi tapi justru paus tersebut datang berlindung karena laut wakatobi masih sangat bersih dan murni.

    "Agar diketahui pula oleh Bapak Gunernur bahwa sebelum kegiatan ini ada 250 titik dikabupaten wakatobi yang telah kami lakukan gerakan dalam rangka mengendalikan, memungut sampah serta membangun kesadaran edukasi kepada masyarakat" tambahnya.

    Ia lebih rinci menggambarkan potensi sumberdaya alam Kabupaten Wakatobi dengan keterbatasan wilayah yang dimiliki terdiri dari 97 persen laut dan hanya 3 persen daratan. Namun justru ragam kekayaan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia yaitu 750 spesies karang dari 850 spesies karang di dunia, memiliki 942 jenis ikan kemudian 90 hektar terumbu karang dan 48 Kilometer karang atol kaledupa yang merupakan karang atol terpanjang di dunia.

    "Karena potensi tersebut wakatobi telah ditetapkan sebagai cagar biosfer bumi yang mana semua itu tidak lain adalah untuk kesejahteraan masyarakat Wakatobi. Wakatobi juga telah ditetapkan sebagai satu dari sepuluh top destinasi pariwisata nasional. hanya 10 bali baru dari lima ratus lebih kabupaten kota.Sehingga semua potensi itu tanpa dijaga dengan aturan regulasi yang tepat" tutupnya. (**)


    Penulis | La Ilu Mane